Monday, November 12, 2007

Aceh, Aku Mencintaimu (1)


Banda Aceh, 15 - 22 Januari 2005

Amir Fauzi, karyawan Telkom Kandatel Balikpapan yang juga ketua DPW Sekar Telkom Kalimantan dan seorang pendaki gunung, telah pulang dari Aceh; menunaikan tugas menjadi seorang relawan. Selama kurang lebih seminggu di sana, ada oleh-oleh berupa cerita selama hari-harinya di Aceh. Sebuah catatan harian yang begitu detail, dan membawa angan kita seolah-olah kita berada di tempat yang terkena bencana yang sangat dahsyat tersebut. Meski sudah seminggu lebih sejak kepulangannya, namun catatan harian perjalanannya tetap menarik untuk disimak. Berikut penuturannya :


SMS kuterima ketika aku sedang berada di Pontianak dalam rangka pelantikan DPD Sekar Pontianak & Sosialisasi GCG, 28 Desember 2004. SMS yang di forward oleh Sekjen Sampurno itu berbunyi : dibutuhkan relawan yang memilik skills survival untuk membuka daerah-daerah tertutup akibat gelombang tsunami di propinsi NAD.


Berdasarkan SMS itu, aku melakukan broadcast ke milis Sekar. Dalam tempo seminggu terkumpul hampir 30-an relawan yang siap lahir batin untuk dikirim ke Aceh. Untuk mempermudah koordinasi serta berbekal pengalaman Jawara yang pernah dikirim sebelumnya, maka koordinasi dari awal rekrutasi telah dilakukan dengan posko Aceh di Medan dan dengan Manajemen Divre VI.


Aku dan rekan-rekan menunggu panggilan dari Posko Aceh beberapa hari hingga akhirnya panggilanpun tiba. Dalam koordinasi dengan Posko Aceh, disebutkan bahwa dibutuhkan segera 5-10 relawan untuk melakukan pencarian karyawan yang hilang serta mencari sanak famili karyawan yang tercerai-berai. Berbekal info dari Posko Aceh tersebut kami lakukan teleconference dengan Posko Medan bersamaan dengan Rakor DPW di Samarinda pada hari


Rabu 12 Januari 2005.
Pada hari itu juga seleksi relawan kami matangkan dengan jajaran Manajemen dan keesokan harinya, Kamis 13 Januari disepakati bahwa Divre VI akan mengirimkan 7 orang relawan dari masing-masing Datel. Proses seleksi kami lakukan berdasarkan NIK (Nomor Induk Kepegawaian yang menunjukkan tahun kelahiran), diambil yang urutannya lebih muda, dengan asumsi lebih bugar, mengingat waktu yang sangat mendesak. Jika NIK yang muda berhalangan, maka diprioritaskan NIK berikutnya dengan pertimbangan lain lokasi & tugas-tugas hariannya. Dari koordinasi, hari itu juga terkumpul 7 relawan yang siap berangkat ke Aceh.

Dari hasil seleksi relawan yang dilakukan dengan sangat kilat melalui pemastian kondisi fisik, kesiapan mental, skills, jobs dinas dan tentunya ijin keluarga, maka diputuskan relawan yang akan berangkat ke sana, yaitu : Hari Mulyadi (kantor Divre VI), Riyanto (Samarinda), Maladi (Banjarmasin) Machmud Fauzi (Tarakan), H. Mesransyah (Palangkaraya), dan M Muslikh (Pontianak) dan aku sendiri, Amir Fauzi (Balikpapan).

Setelah ada kepastian, maka kami melakukan koordinasi secara intensif, mulai dari perlengkapan pribadi, perlengkapan group sampai ticketing. Kami bersyukur, sore itu dibantu Officer Sarana Umum, Ramli dapat menyiapkan perangkat group berupa tenda, survival toolkit, sarung tangan, pisau, ponco, paples, tali, obat-obatan dan makanan tahan lama. Malam itu juga kami melakukan packing agar paginya ready to be use, karena pesawat take off pukul 10.00 Wita menuju Medan dengan transit di Jakarta.

Jumat, 14 Januari 2005
Pagi hari kami para relawan melakukan koordinasi ulang. Sesuai kesepakatan relawan dibagi menjadi dua group. Group I berangkat dari Bandara Sepinggan, yaitu relawan dari Tarakan, Balikpapan & Samarinda. Group II pull di Jakarta, yaitu relawan dari Pontianak, Palangkaraya, dan Banjarmasin. Pagi hari sebelum berangkat, kami berpamitan kepada Manajemen Divre VI, Parminto selaku POH Kadivre didampingi Manager Pelayanan SDM, Fathurrokhman yang memberikan arahan kepada kami, tentang apa saja yang terkait dengan misi kemanusiaaan serta tugas-tugas yang harus kami lakukan. Acara tersebut ditutup dengan doa bersama lantas kami berpamitan menuju bandara. Sesampai di Bandara, relawan dari Tarakan sudah menunggu, lantas kami cek in dan menuju Jakarta.

Sampai di Cengkareng kami melakukan sholat dzuhur dan melakukan koordinasi dengan group II, yang ternyata sudah datang duluan. Alhamdulillah, kami bisa satu flight ke Polonia Medan.
Jam 15.00 WIB kami sampai di Polonia Medan. Dari koordinasi dengan Posko Medan, kami diinapkan di Hotel Garuda. Kami menginap satu kamar bertujuh sambil sebagian tidur ‘melantai’, sekalian test kesiapan untuk menjadi relawan. Jam 24.00 malam kami laukan koordinasi dengan koordintor Posko Medan perihal penanganan korban tsunami, termasuk 250 kawan-kawan dari Aceh berserta keluarga yang diungsikan di Medan. Sebagaimana info yang kami terima, pegawai NAD diungsikan ketika terjadi tsunami dengan mencarter pesawat Jatayu. Sebagai info, langkah ini ternyata juga dilakukan oleh beberapa BUMN/Swasta yang beroperasi di NAD.

Sabtu, 15 Januari 2005
Subuh kami sudah dalam keadaan siap berangkat. Selepas sholat subuh, kami langsung menuju bandara Polonia. Betapa sibuk dan ruwetnya bandara ini, banyak pesawat cargo asing dan militer yang nongkrong di Bandara. Selain itu lalu lalang penumpang dan relawan dengan berbagai latar belakang dan identitas di kaos dan rompinyapun juga menjadikan pemandangan lain. Tampak beberapa relawan yang mau berangkat ke Aceh atau baru pulang dari Aceh. Hmm....., suasana bandara jadi benar-benar lain dari biasanya. Belum lagi terlihat wajah duka terselip di beberapa calon penumpang. Suasana duka sudah terasa ketika kami memasuki bandara ini. Tsunami terasa menorehkan duka yang sangat dalam.

Sekitar jam tujuh pagi, akhinya kami boarding. Pagi itu juga kami dibawa pesawat Jatayu menuju Bandara Blang Bintang, Banda Aceh. Kami perhatikan, raut muka penumpang terasa sangat lain, dan penerbangan kali ini adalah penerbangan yang sangat lain dari penerbangan yang pernah kami ikuti biasanya. Semua membisu, seakan setiap orang membiarkan pikirannya berkelana dengan suasana batinnya masing-masing.

Dari pesawat kami melihat ke bawah, nampak pegunungan menghijau serta awan putih mengkilat. Duh indahnya......, dan luar biasa pemandangan saat kami mulai memasuki Bumi Rencong ini; tak seperti yang kami bayangkan sebelumnya. Ia sangat subur, hijau dipenuhi dengan pegunungan dan aliran sungai berkelok. Sebuah negeri impian yang amat subur, namun realitanya sarat dengan duka dan nestapa.

Ketika co-pilot menginformasikan pesawat akan segera mendarat, serta merta berapa kepala melongok ke pintu. Hampir semua, ya....... hampir semua kepala. Mereka dengan tatapan kosong dan penuh tanda tanya melihat pesisir yang berwarna kecoklatan. Ketika pesawat semakin menurun, semakin jelas kondisi Kota Banda Aceh yang porak poranda. Sungguh mengenaskan. Tampak beberapa penumpang, raut mukanya meredup seakan menahan beban yang sangat berat. Dari atas pesawat inilah kami melihat, betapa luas area kota yang terkena tsunami. Tidak meleset jika korban yang ditimbulkannya sangat dahsyat.

Jam 10.00 kami mendarat. Disini tampak pesawat asing dan cargo juga nongkrong disana sini. Belum lagi barang hasil bongkar muat yang tampak semrawut. Kulihat bandara Blang Bintang bagai bandara yang tak terurus. Suasana pengambilan bagasipun tampak kacau, maklum karena dalam kondisi darurat. Alhamdulillah, kami segera dapat mengambil barang dan bersyukur dari Posko Aceh sudah ada yang menjemput . Kami sempat terkesima ketika melihat suasana di luar bandara, banyak sekali tempelan foto yang menyatakan kehilangan keluarga. Belum lagi lalu lalang relawan regional dan asing. Ketika kami keluar bandara, tampak bandara dikepung oleh kamp pengungsian. Sangat mengetuk nurani siapapun yang menyaksikannya. Membuat hati ini merinding melihat penderitaan saudara-saudara kita di Aceh.

Setelah dari Blangbintang, kami dibawa ke Posko Telkom Peduli Aceh di Lambaro, sekitar 10 km dari Bangbintang. Selama perjalanan kami melihat, betapa jalan menuju ke bandara banyak diapit pos pengungsian. Yang paling mengharu biru adalah ketika kami melewati kuburan massal, sebuah lokasi tepi jalan yang digali khusus untuk kuburan massal tersebut. Konon, ribuan jenazah korban tsunami dikuburkan disini. Bau menyengat sangat terasa walau kami hanya melintas cepat.

Sesampainya di Posko Lambaro, oleh ketua Posko kami diminta untuk beristirahat; sedangkan relawan eksisting berangkat melakukan pencarian dan pendataan pegawai serta mendistribusikan bantuan di beberapa area pengungsi. Sembari menunggu tugas, kami membongkar barang yang kami bawa serta kemudian kami pilah. Obat-obatan, logistik, alat survival dan lainnya, sehingga setiap relawan kebagian.

Sehabis Dzuhur dan makan siang spesial di posko dengan menu nasi, sayur kangkung dan ikan asin; kami merasa kembali bugar dan siap tempur. Materi sore ini adalah pengenalan medan dan kami dipandu ketua posko, Herman Barna berputar keliling Banda Aceh dari ujung ke ujung, tentunya untuk daerah bencana yang telah dibuka oleh alat-alat berat. Kami bergabung dengan tim eksisting survey medan.

Dari posko Lambaro masuk ke jalan utama menuju Banda Aceh, tak henti-hentinya kami mengucap takbir. Kanan-kiri jalan diliputi onggokan mobil ringsek seperti habis diblender. Dari bentuknya yang tersisa, terlihat onggokan mobil ditepi jalan adalah mobil yang sebelumnya masih sangat bagus. Akibat dari bencana ini benar-benar dahsyat. Ketika kami mulai masuk perkotaan dan di ambang batas banjir, terlihat kerusakan yang luar biasa. Tampak bangunan tak lagi berbentuk, gedung yang runtuh, harta benda yang hancur serta tampak mayat ditepi jalan yang dibungkus plastic mayat warna-warni. Mayat ini sudah masuk minggu ketiga, dan menebarkan aroma yang khas.

Sebelum melanjutkan perjalalanan, kami mengisi bensin di Centrum Banda Aceh. Bau tak sedappun kembali muncul, karena ada gedung tingkat tiga depan centrum yang runtuh. Nampak terlihat hanya tinggal satu tingkat, konon didalamnya masih ada 16 jenazah yang belum dievakuasi. Maklum, untuk evakuasi perlu alat berat, yang saat ini difokuskan untuk membuka jalan-jalan utama yang masih tertimbun kayu, jenazah dan sampah. Alat berat memang sangat dibutuhkan, karena nyaris tidak mungkin menggunakan tangan kosong untuk memindahkan lempengan besi, kayu, dan tembok yang melintang di jalan. Karena sedikitnya alat berat, pada hari-hari pertama bencana penduduk Aceh hanya mengandalkan gajah.

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Lok Nga. Setiap jalan kami bertakbir, dan kami sungguh merasa sangat kecil dibanding dengan kekuasaan Allah. Sungguh sangat susah bagi kami mengurai perasaan batin ini. Perjalanan ke Lok Nga (Aceh Barat) sungguh sangat menyentuh hati kami. Belum lagi hujan menyapu lebat perjalanan kami. Yang kami lihat sejauh mata memandang, terlihat seperti padang kematian. Bangunan yang rata dengan tanah, onggokan kayu, tembok, sampah dan genangan air. Terlihat sepanjang jalan, kumpulan jenazah tiga, empat atau tujuh yang dibungkus dengan plastik jenazah yang berwarna hitam dan ada yang berwarna orange menyala.

Kami menembus Lok Nga sampai jembatan putus. Lok Nga, sebelum bencana terkenal keindahan pantai dan pemandangannya. Disini ada gudang senjata, markas TNI, dan Brimob. Tetapi ketika kami lewat, markas tersebut lenyap hingga tegelnyapun berhamburan. Sungguh mengerikan, nyaris rata dengan tanah. Setelah dirasa cukup kami kembali, dan sepanjang jalan kami melihat betapa bencana ini sangat dahsyat.

Dari Lok Nga, kami menuju ke pesisir Utara. Di pesisir ini terkenal dengan pelabuhan tuanya tempat kapal laut bersandar. Pelabuhan Ulheu-Lheu namanya. Selama perjalanan ke Ulheu-Lheu kami menemui jalan yang ambruk dibuka oleh beberapa alat berat. Terlihat TNI banyak terlibat dalam membuka akses jalan utama. Tepi jalan masih banyak bungkusan jenazah, yang kadang masih tampak kaki, tangan, atau sebagian kepala. Sesekali kami berpapasan dengan truk membawa jenazah untuk dikuburkan.

Sesampai di Ulheu-Lheu tampak sangat sepi dan mencekam, hanya ada lalu lalang beberapa truk mengangkut material dan jenazah. Dari sini kami dapat melihat nyaris seluruh kota Banda Aceh yang terhantam gelombang, dan itu tampak dari kerusakan yang luar biasa. Dan lagi-lagi kami lihat sejauh mata memandang nampak rata. Ada beberapa tiang BTS seperti dipuntir oleh tenaga yang sangat dahsyat. Kami lihat juga, bagaimana pelabuhan Ulheu-Lheu tampak seperti pulau yang terpisah dari daratan, serta kantor Bea Cukai yang nyaris tak berbekas. Yang paling menakjubkan, Masjid tua Ulheu-Lheu tampak berdiri kokoh, dari bekasnya tampak ombak melewati Masjid tua dua tingkat tersebut. Nampanyak ini pelajaran bagi yang masih hidup, atas kekuasaan Allah. Subhanallah.

Setelah matahari mulai terbenam, kami putuskan segera pulang, mengingat jam malam dan keamanan. Sesampai di Posko kami sholat Magrib, makan malam, dan evaluasi. Hari pertama di Aceh ini sangat mengharu-biru. Malam harinya sempat terjadi gempa, jadi kami tidur dalam kondisi siaga. Hujan, dingin, sepi, dan gempa menemani kami malam ini. Tapi ini belum seberapa dibandingkan dengan derita dan duka yang diderita oleh rakyat Aceh. Bersamboeng

Amir Fauzi
Owner
Fatta Niaga
=======================================
www.bursajilbab.com : Grosir Jilbab Super Murah
www.bajubayimurah.com : Pusat Kulakan Baju Bayi
www.ebajumuslim.com : Grosir Baju Muslimah Murah
www.wafanakids.com : Grosir Baju Muslim Anak
www.grosirkoko.com : Grosir Baju Takwa Bandung
www.jihadiclothing.com : Kaos Distro Muslim
www.sekolahsablon.com : Spesialis Kursus Sablon Kaos
=======================================

0 komentar: