Friday, April 30, 2010

Kausku Kaus Dakwah

Ini cara baru dan gaul untuk menyuarakan eksistensi Islam.
Republika, 1 Mei 2010

'Wanita Sholehah adalah Sebaik-baiknya Perhiasan'. Tulisan ini bukan tertera di atas spanduk. Jangan pula mengira ini pengantar untuk iklan sebuah produk. Tulisan itu terpatri di atas kaus milik Feny Selly Pratiwi (24 tahun). Ternyata, kaus itu bukan sembarang kaus. ''Ini cara saya menyuarakan eksistensi Islam,'' katanya.

Bagi Feny yang sejak lulus kuliah tak lagi ikut berdemo demi membela kepentingan Islam, inilah dakwah cara baru. Feby Khesa Pratiwi (24) pun setuju. ''Dengan menggunakan kaus dakwah, saya tidak hanya berdakwah untuk orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri,'' ujarnya.

Di mata Feby, manusia memiliki ketertarikan visual terhadap benda yang unik. Tulisan pada kaus dakwah mampu memancing kecenderungan itu. Tak jarang, orang yang berada di dekatnya akan melirik tulisan atau melihat gambar yang tercetak pada kausnya.

''Apalagi kalau saya pakai kaus itu di bus kota atau saat mengantre,'' katanya.

Inilah media komunikasi terbaru: Kaus. Berkat desain dan tulisan yang atraktif, kaus-kaus ini mampu berperan menjadi semacam billboard mini. Pesan yang disampaikan lewat kaus-kaus itu bukan sekadar tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi juga klaim atas status pemakainya. Dan, ketika tulisan bernada dakwah tertera, kaus pun menjadi media baru yang mengungkap identitas sang pemakai.

Prihatin
Gairah kaus-kaus dakwah itu pun kian bergelora berkat kehadiran distro-distro yang menjadikan kaus dakwah sebagai produk jualannya. Tampaknya, populasi Muslim di negeri ini membuat kaus dakwah menjadi lahan bisnis yang cukup menjanjikan. Satu yang turut melirik adalah iHAQI.

Berawal dari menerbitkan buku-buku bernapaskan Islam, pada 2006 iHAQI berusaha mencari bentuk media dakwah baru. ''Kami membahas bersama-sama hingga memutuskan untuk membuat kaus dakwah,'' ujar pengelola kaus dakwah iHAQI, Lucky Rahmat.

Keinginan itu muncul lantaran prihatin melihat gaya anak muda yang kerap menggunakan kaus-kaus yang cenderung 'provokatif'. ''Misalnya, kaus bergambar tengkorak dengan tulisan 'Go to Hell','' katanya. Padahal, Lucky sadar betul bahwa apa yang dipakai oleh seseorang adalah cerminan dari karakter yang terbangun dalam diri mereka.

Dari kawasan Surapati, Bandung, Lucky dan teman-teman mulai mengembangkan ide tersebut lebih dalam. Mereka menetapkan pakem bahwa kaus yang diproduksi tidak hanya bernapaskan Islam, tapi harus sejalan dengan tren mode anak muda saat ini. ''Jangan sampai kaus yang dibuat dianggap norak, sehingga alih-alih bisa berdakwah lewat kaus, malah tak ada yang menggunakan kaus rancangan kami,'' katanya.

Akhirnya, timbullah ide kreatif. Benang merah model kaus yang mereka buat terinspirasi dari ayat hingga pelesetan dari merek terkenal. Maka, muncul kaus bertuliskan 'Haram Suudzon, Muslim Peace' yang merupakan pelesetan merek Harley Davidson. Juga ada plesetan logo sebuah minuman keras dengan sanjak yang hampir sama 'J'lek Banget'. Ada pelesetan logo Superman dengan huruf S diganti dengan angka 5 yang diiringi tulisan 'Muslim Ritual Pray'. Ada pula logo Manchester United yang diganti jadi 'Muslim Union'.

Selain iHAQI, masih banyak distro yang menjadikan kaus Muslim sebagai komoditas jualannya. Satu di antaranya adalah Grosir Kaos Distro Muslim Jihadi yang juga bermukim di Bandung.

Sang pemilik, Amir Fauzi, dalam blognya menyatakan, Jihadi mengusung tema, yaitu membangun spirit keislaman di tengah arus modernitas dan globalisasi. ''Kami berharap, dengan usaha kami ini setidaknya ikut berpartisipasi dalam kebangkitan umat meskipun dengan sesuatu yang sederhana,'' ujar Amir.

Ketika kaus-kaus dakwah kian menjamur, Roni Arifyanto (22) turut tertarik. Apalagi, dengan desain dan tulisan atraktif plus kualitas bahan yang tak kalah dengan produk kaus lainnya. ''Awalnya, saya pikir kaus dakwah yang dijual hanya mengutamakan keindahan bahasa saja,'' ujarnya.

Namun, kecurigaannya itu terpatahkan. ''Ternyata, banyak juga distro yang menjual kaus dakwah yang menghadirkan kaus dengan desain maupun material yang bagus,'' katanya.

Sejak itu, Roni mulai memasukkan opsi kaus dakwah pada daftar belanjanya, terutama saat menyambangi Kota Bandung. ''Kalau punya kesempatan liburan ke sana, saya selalu berburu kaus di distro-distro Bandung,'' ujarnya.

Roni pun merasa mengenakan kaus dakwah bukan sekadar mengikuti tren. ''Dulu memang saya sama sekali tak terpikir untuk sekalian berdakwah atau menyatakan diri saya seorang Muslim ketika menggunakan kaus dakwah,'' katanya.

Kini, ceritanya beda. Kendati mengaku belum menjadi Muslim yang baik, ''Setidaknya saya mencoba untuk menjadi lebih baik. Syukur-syukur karena membaca tulisan di baju saya, ada juga orang lain yang tercerahkan,'' katanya. c09, ed: endahhapsari


Syaratnya: Desain Seru

Tanpa desain yang seru dan menarik, kaus dakwah tidak akan efektif menjadi media dakwah. ''Tulisan dan gambar bermakna Islami mungkin menjadi kekuatan, namun di sisi lain bisa saja tidak dilirik karena desain yang jelek,'' ujar Feny Selly Pratiwi.

Bisa ditebak, desain yang tak berkualitas sulit diharap dapat menggerakkan hati seorang Muslim untuk menggunakan kaus dakwah.
''Bagaimanapun desain kaus harus sangat diperhatikan,'' ujarnya.
Ketika memilih kaus, Feny melirik tak jauh dari urusan desain. ''Kalau desainnya jelek, saya juga tak mau menggunakannya,'' tutur Feny.

Feby Khesa Pratiwi lagi-lagi setuju. Bedanya, ''Biasanya saya memilih kaus dakwah yang tulisannya berada di bagian bawah kaus, bukan di dada,'' ujarnya. Soalnya, kata dia, bila tulisan tersebut terdapat di dada, maka akan percuma karena tertutup oleh jilbab. ''Kalau di bagian pinggang, baru tulisannya akan terlihat,'' katanya.

Bahkan, Roni Arifyanto mengaku sedikit pemilih kalau urusan kaus. ''Kalau gambar atau tulisannya tidak bagus, saya tidak akan mau beli, ujarnya.

Seperti diungkap pengelola kaus dakwah iHAQI, Lucky Rahmat, desain yang bagus memang menjadi perhatian utama mereka. Untuk urusan desain, mereka telah menyiapkan dengan sangat matang. ''Kami tidak asal membuatnya. Ada tim kreatif khusus yang bertugas untuk itu,'' katanya.

Meski desain yang ditampilkan sangat sederhana, tetap memberikan arti yang luar biasa besar. Uniknya, ''Kami kerap menggunakan simbol,'' ujar Lucky. Ini, lanjutnya, agar dapat menghadirkan percakapan antara pengguna pakaian dan yang melihatnya.

''Misalnya kaus bergambar gajah yang merupakan abstraksi dari surat Al Fiil,'' katanya.

Dengan gambar yang abstrak, tentu orang yang melihat tidak langsung mengerti maksud gambar pada kaus tersebut. ''Mereka akan bertanya kepada pemilik kaus yang kemudian akan menjelaskan maksudnya. Nah, disinilah dakwah tersebut berjalan,'' tuturnya. c09

Amir Fauzi
Owner
Fatta Niaga
=======================================
www.bursajilbab.com : Grosir Jilbab Super Murah
www.bajubayimurah.com : Pusat Kulakan Baju Bayi
www.ebajumuslim.com : Grosir Baju Muslimah Murah
www.wafanakids.com : Grosir Baju Muslim Anak
www.grosirkoko.com : Grosir Baju Takwa Bandung
www.jihadiclothing.com : Kaos Distro Muslim
www.sekolahsablon.com : Spesialis Kursus Sablon Kaos
=======================================

0 komentar: