Monday, March 14, 2011

Tanda Kehancuran Sebuah Bisnis Besar

Kita dapat berkaca dari kehancuran bisnis, yang mungkin belum pernah terpikirkan. Sebut saja, Lehman Brothers, Citi Corp, General Motor, Worldcom, Arthut Anderson dan lainnya. Untuk perusahaan di tanah air, saya pikir jauh lebih banyak lagi yang dapat kita ambil pelajaran.

Seringkali, sebagai pebisnis kita Cuma mengambil pelajaran dari sisi keberhasilannya saja, dan jarang orang yang mempelajari kejatuhan sebuah bisnis. Padahal ini sangat penting, layaknya general check up kesehatan, kita perlu tahu kadar kolesterol, tekanan darah, detak jantung dan
sebagainya. Setidaknya dari data tersebut kita bisa melihat, apakah tubuh kita fit atau tidak. Tanpa mengetahui dashboard kesehatan bisnis, bisa jadi kita tidak tahu bahwa sebenarnya bisnis yang kita geluti dalam ambang kebangkrutan karena kita terjebak dalam rutinitas.

Setidaknya saya telah membaca 3 buku terkait deteksi kehancuran sebuah bisnis, pertama dari Jurgen Nudges, kemudian dari mantan CEO Coca Cola dan terakhir karya Sonny Gunawan.

Saya akan mengulas karya Sonny Gunawan yang mendeteksi tanda kehancuran bisnis kedalam 9 penyebab.

1. Sikap Arogansi
Sikap arogansi adalah sikap awal kehancuran. Seringkali perusahaan besar karena market share dan kapitalisasi yang besar meremehkan hadirnya perusahaan kelas teri yang baru lahir. Padahal, jamak ditemui dalam jaman internet ini perusahaan kecil tumbuh dengan sangat cepat. Belum lagi, perusahaan kecil yang ramping umumnya sangat efisien dan gesit. Sikap arogansi merasa paling hebat, paling kuat dan merasa punya segalanya akan meruntuhkan sensitifitas bisnis yang secara perlahan melumpuhkan bisnis perusahaan. Jadi, jangan terlena, berkembanglah, adaptif, dan terus memonitor pasar, karena pasar cepat sekali berubah. Ketika anda tidak berubah, bahwa sesungguhnya bisnis orang lain yang tumbuh.

2. Tidak Terkendali Pengelolaan Sumberdaya
Jamak ditemui, perusahaan besar relative boros sehingga mengakibatkan biaya ekonomi tinggi. Seringkali terjebak pada birokrasi, rutinitas serta beban operasi yang tiap hari terus meningkat. Naiknya beban operasi pada akhirnya mempengaruhi harga jual produksi yang ujungnya mengurangi laba bersih perusahaan. Dengan rentang kendali yang lebar dan jenjang birokrasi yang tinggi mengakibatkan kelambanan proses pengambilan keputusan. So, sulusinya, terus update struktur organisasi yang efisien setiap waktu dengan tetap menjaga biaya tetap agar tidak membengkak. Lakukan efisiensi terus menerus agar produk yang dihasilkan kompetitif.

3. Praktek yang Tidak Sehat
Perusahaan yang semakin besar dan lama usianya seringkali menciptakan kondisi kerja yang tidak sehat. Seringkali rawan korupsi karena lemahnya pengawasan. Belum lagi terciptanya ego sektoral dan seringkali malah timbul persaingan internal yang tidak sehat. Dengan tumbuhnya praktek tidak sehat akan berpengaruh terhadap kinerja dan daya saing perusahaan. So, solusinya tegakkan etika bisnis yang benar di perusahaan. Reward & punish yang
seimbang.

4. Tidak Terintegrasinya Elemen Organisasi
Semakin besar perusahaan, seringkali elemen organisasi juga semakin banyak dan membesar. Saat ini terjadi seringkali elemen organisasi kehilangan focus dan penciptaan nilai serta timbul ego sektoral. Dengan tidak adanya integrasi proses, maka kinerja yang dihasilkan semakin menurun kualitas dan kuantitasnya karena banyak waktu dan energy terbuang serta tidak adanya sinergi antar unit.

5. Perencanaan Tanpa Eksekusi
Seringkali perusahaan besar, hanya banyak menghasilkan rencana tanpa adanya eksekusi. Padahal great success = great strategy + great execution. Sehinggaseringkali produk dan jasa yang dilempar kepasaran tidak time to market karena factor eksekusi yang lemah.

6. Comfort Zone
Dengan posisi pasar yang kuat, seringkali perusahaan lupa bahwa sebenarnya pasar terus berubah setiap hari. Selain itu, umumnya gaji pegawai jugasemakin tinggi. Dengan tingginya gaji pegawai yang umumnya berbasis pada fixincome seringkali melenakan pegawai akan persaingan yang semakin pesat danturbulen. Saat market tergerus secara perlahan oleh competitor baru yang tidak pernah dibayangkan, umumnya perusahaan merasa gagap dan rendah diri
mensikapi pasar. Jika ini terus berlangsung, maka sejatinya bisnis dalam keadaan sunset yang mengerikan.

7. Bureaucracy Trap
Jebakan birokrasi sering terjadi pada perusahaan besar. Dengan semakin banyak orang biasanya semakin memperpanjang birokrasi. Dengan panjangnya birokrasi, maka semakin besar cost yang timbul. Dengan semakin banyak cost, maka secara perlahan daya saing perusahaan tersebut terus menurun.

8.Gagalnya Suksesi Kepemimpinan
Seringkali perusahaan besar gagal melakukan alih generasi, sehingga filosofi founding father hilang saat ganti generasi. Jika tidak disiapkan dengan baik proses suksesi dan pewarisan nilai-nilai, maka umumnya perusahaan diambang kehancuran pada generasi penerusnya.

9. Human Centric
Organisasi terbelenggu hanya mengelola SDM saja dan terlupa mengelola pasar. Padahal eksis tidaknya sebuah bisnis ada di pasar. Seringkali perusahaan disibukkan dengan dirinya sendiri dan lupa menciptakan nilai bagi pelanggannya saja. Perusahaan yang asik dengan urusan internal, seringkali tidak mampu merespon pasar dengan baik karena terbelenggu dengan rutinitas internal.

Demikian, 9 tanda kehancuran bisnis besar yang seringkali dilupakan pada eksekutif bisnis.

Wassalam,


Amir Fauzi
Owner
Fatta Niaga
=======================================
www.bursajilbab.com : Grosir Jilbab Super Murah
www.bajubayimurah.com : Pusat Kulakan Baju Bayi
www.ebajumuslim.com : Grosir Baju Muslimah Murah
www.wafanakids.com : Grosir Baju Muslim Anak
www.grosirkoko.com : Grosir Baju Takwa Bandung
www.jihadiclothing.com : Kaos Distro Muslim
www.sekolahsablon.com : Spesialis Kursus Sablon Kaos
=======================================

0 komentar: