Monday, September 26, 2011

Kekuatan Fokus Dalam Bisnis

Era konglomerasi sudah berakhir, begitu pesan dari Ohmae.
Kalau dulu, memang eranya konglomerasi. Banyak pengusaha menguasai bisnis dari hulu sampai hilir (integrasi vertikal), selain itu juga banyak macam bisnis yang digeluti (integrasi horizontal). Mulai dari pertambangkan, properti, agrobisnis sampai perbank-kan. Luar biasa, siapa tidak tahu figur-figur taipan dinegeri ini yang jaya di era 80-an sampai pertengahan 90-an. Wajah ara taipan itu banyak menghiasi media masa.

Lantas, kemana wajah-wajah itu sekarang, hampir beberapa gelintir yang masih bertahan diganti dengan wajah-wajah baru yang barangkali masih sangat hijau dan asing. Lantas bagaimana itu bisa terjadi. Jawabnya bisnis telah berubah kuadran.

Dulu, mayoritas pengusaha bisa melakukan konglomerasi, dengan era baru dimana komunikasi, transparansi dan persaingan bebas tidak bisa lagi pengusaha dengan bebas bermain mata memonopoli perdagangan. Tidak banyak proteksi yang diberikan oleh penguasa sebagaimana jaman dahulu. Bisa jadi karena dekatnya dengan penguasa, seorang pengusaha menjadi importir tunggal atau monopoli sebuah produk.

Nah, bagaimana mensikapi perubahan ini.

Saya dinasehati, FOKUS lah dalam BISNIS.
Demikian nasehat yang diberikan mentor saya saat itu, namun saya mengabaikan nasehat itu, semua saya eksekusi, ada 3 bisnis saat itu, dan ternyata memang benar, dari 3 bisnis itu yang tumbuh hanya 1 saja,yang lain terbenam lumpur.

Untuk Fokus ternyata perlu energi, kadang saat kita punya dana nganggur, godaan untuk tidak fokus kembali muncul, dan benar saja saat kami eksekusi tidak banyak memberi hasil atau tidak maksimal.

Kemarin saya ketemu lagi dengan pengusaha mebel, dia menasehati saya, untuk tetap fokus, fokus dan fokus.

Fokus saja belum tentu berhasil, apalagi tidak fokus.
Dengan nasehat dan beberapa kejadian yang saya alami, saya terus berusaha kembali untuk fokus dalam bisnis. Sampai hari ini, fokus saya masih tetap di bisnis Garmen. Sedangkan properti dan investasi lainnya saya pandang sebagai buffer saja.

btw :
Kepada calon pebisnis, semoga ini jadi pelajaran agar tidak mengulang apa yang telah kami lakukan.

Wassalam,


Amir Fauzi
www.efatta.com
Fatta Inc

0 komentar: