Tuesday, November 13, 2012

Akibat Rendahnya Jumlah Pengusaha, Wirausaha, Entrepreneur

 
Beberapa hari yang lalu saya mendapat undangan acara disebuah hotel termahal di Bandung. Seperti biasanya, masuk langsung menikmati hidangan mewah hotel tersebut. Setelah itu langsung dilanjut dengan acara meeting.

Saat mau break, saya dapati sebuah kantung teh dalam kemasan cantik, ada 3 jenis, saya amati dan baca. Merk teh itu Twinings, sebuah pabrik Teh terbesar dunia yang berpusat di London Inggris.

Sontak saja angan-angan saya melayang, membayangkan kota London. Dengan begitu yakin, pikiran saya menjustifikasi, pasti di Inggris tidak ada perkebunan teh. Karena memang teh itu ada dinegara tropis seperti Indonesia, India dan lainnya.

Mari kita pikirkan cerita sederhana ini dan kita dalami maknanya.

Inggris tidak punya teh, tetapi menguasai perniagaan teh dunia. Bukan hanya itu, masih banyak contoh lain, semisal, pabrik susu terbesar dunia itu Nestle, pusatnya di Swiss. Dan kita tahu, Swiss bukan penghasil susu, karena cuacanya yang dingin, akan tetapi Swiss menguasai susu dunia.

Berikutnya, perniagaan coklat dikuasai oleh Cadbury, sebuah perusahaan tua dari Inggris, padahal Inggris bukan penghasil coklat, melainkan Indonesia. Selain itu saya dapat informasi, pusat gagang pintu terbaik dunia itu ada di Jerman, bahkan penelitian kayu bengkirai terhebat itu ada disana, padahal Jerman bukan penghasil kayu tropis.

Apalagi, Jepang. Saya pernah kesana, disana tidak ada tambang bijih besi dan batubara, tetapi mereka menguasai industri otomotif dunia yang berpusat didaerah industri Nagoya.

Cerita ini kalau kita urai akan menjadi panjang banget, akan tetapi ada suatu pesan yang penting kita renungkan.

Jiwa entrepreneurship.
Ya Jiwa enterpreneurship. Dengan jiwa tersebut sebenarnya bangsa yang miskin kekayaan alam bisa berubah menjadi raksasa industri dunia. Dan begitu juga sebaliknya, bangsa yang subur makmur, kerta rahardja, jika tidak memiliki jiwa wirausaha bisa jadi akan menjadi miskin dan jadi bangsa babu.

Coba kita pikir ulang dari kisah ini, mengapa negeri ini terpuruk sampai harus menjual wanita-wanitanya menjadi tenaga kerja kelas bawah diluar negeri dengan resiko yang sangat tinggi. Serta kita sematkan spirit yang salah sebagai pahlawan devisa ?

Saudara-saudara kita itu mengais nafkah ke tempat-tempat berbahaya hanya karena tidak tersedia lapangan kerja di negeri ini. Kenapa ini terjadi, karena jiwa anak negeri ini lebih mementingkan zona nyaman untuk berebut jadi pegawai daripada menciptakan lapangan kerja.

So,
Membuka lapangan kerja adalah salah satu tugas mulia dan sebagai sarana meningkatkan maruwah penduduk negeri terkaya ini.



Amir Fauzi
Owner
www.jilbabfatta.com

Photo from Flickr

0 komentar: