Friday, November 30, 2012

Penyebab Hancurnya Bisnis Busana & Pakaian

















Diskusi seru ini saya tulis sebagai hasil ngobrol bareng saya, Kang Ujo, Kang Ige dan Agus. Diskusi dari habis isya sampai jam 24.00. Lumayan panjang diskusinya. Salah satu tema diskusi kita malam itu adalah seputar jatuh bangunya pengusaha fashion, baju, busana, clothing dan sejenisnya. Masih seputaran garmen.
Dengan banyak mengulas pengusaha2 garmen besar Bandung dengan segala kisahnya. Maklum, kami adalah praktisi dan kebetulan beberapa kawan pernah bekerja di garmen-garmen yang cukup beken di Bandung. Setelah diskusi panjang lebar, ada beberapa kesimpulan yang menyebabkan hancurnya usaha garmen, diantaranya :

1. Tamak
Apa maksudnya ?
Saat usaha mulai membesar, maka pengusaha garmen mulai dihinggapi rasa tamak. Pengen menguasai pasar, pengin omset terus naik dan naik. Sehingga seringkali terjebak pada jumlah volume yang diproduksi. Karena basisnya volume, maka berlomba-lomba terus memproduksi sehingga dari desain dan kualitas menjadi tidak dipedulikan. Boom ! dan hasilnya, produk banyak yang tidak diserap oleh pasar dan menjadi dead stock. Berikutnya, karena terjebak dead stock maka cashflow mulai terganggu. Berikutnya terjebak utang untuk memenuhi biaya operasional. Kondisi ini biasanya berujung pada PHK karyawan atau melego alat produksi. Case ini ternyata cukup banyak terjadi. Tetap rendah hati dan rasional dalam bisnis menjadi penting untuk menghindari jeram ini.

2. Tidak Fokus
Penyakit berikutnya adalah tidak fokus. Ketika produknya booming, biasanya tergoda untuk masuk ke industri-industri lainnya semisal property, investasi valas dan investasi2 yang menggiurkan. Karena memang uang ada dan kesempatan juga ada, biasanya keuntungan dari perusahaan digunakan untuk diversifikasi. Namun, bisnis baru tak selamanya indah, seperti terlihat rumput tetangga nan hijau. Saat dimasuki ternyata penuh jurang-jurang tajam. Efeknya, dana tersedot ke bisnis baru, konsentrasi pecah dan menyebabkan efek domino. Bisnis baru belum jalan dan menyerap anggaran, bisnis lama menurun karena tak terurus dan cashflownya terganggu karena untuk injeksi usaha baru. Ujung-ujungnya colabs, dari usaha baru merembet ke usaha yang lama.

3. Tidak Saling Menguntungkan
Kasus ini ditemui, saat memulai usaha bersikap win-win dengan partner produksi, namun saat pasar berkembang kemudian berpindah ke lain hati atau menekan rekanan. Yang terjadi adalah rekanan tertekan dan margin keuntungan menipis dan berujung pada berakhrinya kerjasama. Tidak win-win. Sementara itu rekanan baru belum bisa menggantikan kemampuan rekanan lama, wal hasil terjadi penurunan produksi dan mengganggu cashflow.

4. Pecah Partner
Penyebab berikutnya adalah pencah kongsi. Saat usaha kecil bisa bebagi, saat usaha besar ada yang ingin saling menguasai atau tidak puas dengan profit sharing yang ada. Berikutnya adalah terjadi perpecahan, perebutan merek dan pelanggan. Biasanya berakhir, dua-duanya colabs. Menang jadi arang, kalah jadi abu.

5. Ditinggal SDM
Permasalahan klasik lainnya yang sering mendera adalah perusahaan ditinggal oleh SDM-SDM kunci yang keluar. Ada banyak alasan, mulai dari salary sampai kejenuhan menghantui SDM garmen. Ketika orang-orang kunci pergi, dan sistem belum kuat, maka saat itulah perusahaan menjadi limbung dan beberapa diantaranya tumbang.
Setidaknya ada 5 hal diatas yang sering ditemui pebisnis garmen. Bisnis garmen seperti naik turun gunung. Saat diatas, harus selalu bersyukur dan waspada. Saat dibawah harus sabar dan jangan berputus asa. Terus maju SDM clothing Indonesia.



Amir Fauzi
Owner
School of Creativepreneur

picture : flick blog

0 komentar: