Wednesday, September 06, 2017

Gagal Menemukan Keahlian



















Tidak tahu kenapa, kita dan bangsa ini seringkali sulit menemukan keahlian kita. Orang pinter bilang core competency, alias kompentensi inti.

Apakah ini karena pendidikan kita yang sedari kecil bersifat generik alias terlalu umum. Semua ilmu dilahap hingga pencapaian kepakaran di level rata-rata. Banyak bisa tapi tak ahli.

Sedikit-dikit bisa. Bisanya dikit-dikit. Misal, tani bisa, ternak bisa, bangunan bisa, jahit bisa, masang kabel bisa. Semua serba bisa, tetapi sedikit-sedikit. Akibatnya, hasil sedikit-sedikit alias biasa-biasa.
Untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, kita butuh fokus, tak mungkin menjadi superman dalam setiap keahlian yang kita inginkan.

Untuk menjadi pakar perlu fokus. Dan fokus memerlukan pengorbanan untuk mengatakan tidak terhadap apa yang diluar kepakaran. Setiap godaan ingin menjadi segalanya, maka disaat itu potensi kepakaran menurun.

Menjadi pakar sudah menjadi kebutuhan apabila kita ingin keluar jebakan mediocare alias biasa-biasa saja. Menjadi pakar bagian penting memenangkan kompetisi. Dan ini tidak hanya buat daya saing pribadi, tetapi negeri ini pun butuh daya saing. Daya saing muncul saat tahu kompetensi inti dan mengasahnya.

Ini misalnya, thailand dengan agrobisnisnya, korea dengan ginsengnya, china dengan pabrikasinya, belgia dengan coklatnya, belanda dengan kejunya, swiss dengan jamnya, singapore dengan sistemnya, jepang dengan otomotifnya.

Cilembu dengan ubinya, bondowoso dengan tape singkongnya, garut dengan dodolnya, kuningan dengan tape ketannya, purwokerto dengan mendoannya dan sebagainya.

Kalau disebut indonesia, maka apa yang dibenak orang asing akan keunggulan negeri ini. Pun demikian, jika disebut nama kita, keunggulan apa yang kita punya. Jika nama anda diasosiasikan dengan sebuah keahlian, bersyukurlah, setidaknya anda telah mengasah karunia yang telah diberikan.
Untuk menjadi ahli perlu belajar dan jam terbang. Bukan sulap, bukan sihir. Orang bilang perlu 10.000 jam untuk menjadi ahli dibidangnya. Masalahnya, sudahkah kita ada di track yang tepat mengolah skills & bakat terbaik yang kita punya. Jika belum, itu masalahnya. Bisa jadi anda akan menjadi kaum mediocare seumur hidup.

Kampung Volendam-Nederland

1 komentar:

Chusni Mubarok said...

info yang menarik
jangan lupa kunjungi alamat kantor jasa penerjemah bahasa inggris