Monday, October 12, 2015

Tumbangnya Produk Lokal











Alhamdulillah, dalam situasi yang serba sulit usaha kami masih bertahan. Namun bukan berarti ini mewakili kawan-kawan pengusaha garment lainnya yang saat ini bertahan habis-habisan melawan masukknya produk asing dengan kategori yang sama dan lemahnya daya beli.

Sebagai pelaku UKM, silaurahmi antar sesama pengusaha garmen rutin saya jalani. Mulai sekedar bertemu, sharing dan transaksi bisnis. Dalam setiap sharing, kita selalu berbagi kabar bagaimana kondisi bisnis saat ini.

Terus terang mengejutkan, rata-rata kolega saya banyak yang jatuh dimulai dengan menurunnya omset yang sangat tajam. Penurunan omset ini seperti efek domino, yang kemudian diikuti dengan pengurangan produksi, pengurangan pegawai sampai penjualan aset dan penutupan usaha.

Kondisi ini mulai menampakkan muramnya saat masuk tahun 2015, saat lebaranpun tak beranjak naik bahkan sampai dolar membumbung tinggi dikisaran 14.700. Sungguh peristiwa yang bertubi-tubi.

Sebagai pelaku UKM yang modalnya umumnya bercampur dengan dapur keluarga, sungguh goncangan cashflow tersebut sangat berpengaruh terhadap masa depan usaha.

Permasalahannya sebenarnya ada dimana, saya akan coba mengurai sebagai bentuk sharing dan pembelajaran.

1. Liberalisasi Produk Import
Sejak rezim pemerintahan yang baru, kami amati barang masuk ke negeri ini seperti air bah. Bahkan produknya sama persis semisal kerudung instan, koko dan baju2 lainnya yang mana merupakan produk yang sudah jadi.

Harusnya, pemerintah jika peduli dengan UKM, harusnya membatasi pada import bahan baku saja, karena jika import produk jadi maka negeri ini harus membayar jam kerja asing sehingga berdampak menipisnya peluang usaha dan meledaknya pengangguran.

Maraknya produk impor, membuat produsen tergoda. Daripada membuat produk yang kalah bersaing dari sisi harga dan mungkin mutu, lebih baik beralih sebagai pedagang yang lebih rendah resikonya.

Jika ini terjadi, kerugian terbesar bagi aset bangsa, karena orang yang punya skills bermigrasi menjadi pedagang sehingga menyebabkan menurunnya kompetensi dan ketahahan produksi negara. Masalahnya apakah negeri ini akan terus jadi importir dengan hanya menukarnya dengan hasil bumi yang semakin terbatas.

2. Nilai Dolar yang Liar
Naiknya nilai dolar dibatas kewajaran menimbulkan harga bahan baku tak terkendali. Sebagai contoh, kebutuhan kapas 96% masih impor dengan kurs dolar dgn pusat importir di Singapura.

Wajar saja jika dolar melambung, maka harga bahan baku tekstil melonjak tinggi sehingga menyebabkan ongkos produksi meninggi.

3. Daya Beli Menurun
Selain itu, dengan naiknya dolar, banyak perusahaan menutup usahanya dan sebagian bertahan dengan menerapkan pengetatan pengeluaran.

Dampaknya, daya beli masyarakat menurun drastis, sehingga mereka hanya mengkonsumsi kebutuhan pokok saja, sedang kebutuhan primer dan tersier akan dikesampingkan terlebih dahulu. Kondisi ini menekan usaha yang berbasis pada produk sekunder atau tersier baik dalam usaha sandang, pangan dan papan.

4. Desentralisasi Produksi
Hal yang menarik belakangan ini adalah adanya desentralisasi produksi. Apa itu, yaitu kalau dahulu kota tertentu memiliki industri khas yang menjadi icon kota tersebut, kini konsep itu berubah drastis seiring tidak adanya tata kota yang baik.

Sebagai contoh, Bandung, Tangerang dan Bekasi sebagai salah satu sentra industri tekstil dan garmen, kini dengan naikknya UMR yang tidak terkendali dan banyaknya resiko bisnis baik dari demo maupun pungli, maka para pengusaha melakukan migrasi pabrik kedaerah-daerah diluar Jakarta dan kota besar lainnya.

Semisal, daerah Subang, Purwakarta, Salatiga, Garut dan lain sebagainya. Bahkan banyak grosir besar melakukan produksi di kota-kota luar jawa.

Dampaknya, merusak ekosistem. Semisal Jepara yang dulu dikenal dengan ukiran kayunya, penduduknya mulai masuk industri garmen dan meninggalkan profesinya sebagai pengrajin.

Tidak terkelolanya dengan baik sentra-sentra industri akan menimbulkan high cost dan resiko ketahanan produksi dalam jangka panjang...

5. Mentalitas Budak & Konsumtif
Terus terang sulit mengucapkan kata-kata ini, tapi itulah faktanya. Bangsa ini hanya berfikir short term alias instan. Yang penting dapat untuk saat ini, besuk entahlah. Sehingga dengan konsep berpikir seperti ini tidak pernah berpikir secara strategis mensikapi perubahan yang sangat drastis. Asal bisa makan selesai...

Meskipun bertahan dalam kondisi sekarang cukup sulit, namun jika semua berbondong-bondong jadi bangsa pembeli, maka yang terjadi adalah secara perlahan bangsa ini akan menjadi budak asing dengan menukar kekayaan alam yang makin hari makin menipis.

Pengangguran akan bertebaran, orang berbondong menjadi TKI dan yang jelas akan marak kejahatan. Miris melihatnya, tapi itulah faktanya.

Pesan yang bisa saya sampaikan, bertahan sekuat tenaga menghadapi badai ini, dengan atau tanpa pemerintah. Posisi ini memang sulit, tapi jika tidak kita akan menjadi kuli di negeri sendiri.


Amir Fauzi



Friday, September 11, 2015

Mengapa Kita Mesti Bisnis Online

Diaspora Bisnis Off Line

Mudahnya akses melalui internet, menjadi ancaman serius bagi usaha2 konvensional. Contoh simpel yang kasat mata, adanya gojek merenggut penumpang yang biasanya naik metromini, taksi dan ojek konvensional.

Hal ini juga sedang dan akan terus terjadi pada bisnis konvensional lainnya. Contoh riil adalah pusat grosir konvensional seperti tanah abang, cipulir, cipadu dan lainnya.

Kemudahan online membuat seorang produsen dapat memasarkan langsung produknya ke konsumen tanpa harus lewat pasar grosir. Jamak kita ketahui, seorang pemilik toko kini langsung order langsung ke produsen hanya.berbekal bbm dan whastapp. Sungguh bentuk bisnis baru yg belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Perubahan ini, kalau tidak disikapi secara bijak akan berpengaruh pada.penurunan omset.

Apa yg harus kita lakukan, mau tidak mau harus ikut perubahan angin besar jika ingin dapat bertahan.

Kemajuan teknologi harusnya menjadi pemacu mesin bisnis kita bukan malah sebagai bencana.

Mari kita berpikir lagi....

@amirfauzi

Batu Akik Ternyata Bisnis Musiman

Tren bisnis batu akik menurun, begitu reportase sebuah koran. Kalau sdh turun, segera mencari angin baru. Saat angin berubah arah, begitu sulit menerbangkan layang2, walau layang2 itu bagus kondisinya.

Menurutku bukannya yg cepat, hebat dan sebagainya yang mampu bertahan, tapi yang paling adaftif terhadap kebutuhan dan perubahan lingkungan bisnislah yang akan bertahan.

Tidak perlu yang muluk2, sudahkah kita selalu mentera perubahan2 yang terjadi dalam usaha yang kita geluti. Jika kita jeli, setiap hari selalu ada cara dan hal baru. Melewatkannya, berarti sebuah kemunduran dimasa masa yg akan datang.

@amirfauzi

Mensikapi Persaingan : Berfokuslah Pada Penciptaan Nilai

Harga bahan baku naik signifikan. Sulit bertumpu pada harga rendah atau yg memiliki nilai/value rendah. Jika tetap memaksakan diri, margin akan terus tergerus.

Hikmahnya, berpikir ulang, mencari value yg paling tinggi. Kalau di fashion itu ada di desain, kalau kuliner mungkin di rasa, kalau di bisnis outsourcing itu di skills yg tinggi. Dll.

Bertahan dgn produk2 komoditas, jelas.bukan pekerjaan yang mudah, karena harga yang menjadi patokan. Perang harga ujung2nya margin terus menipis dan nyaris kerja bakti.

Semoga terus mampu menemukan dan berfokus pada aktifitas bernilai tinggi. Dan itu butuh expertise atau keahlian. 

@amirfauzi

Pentingnya Fokus dalam Bisnis

Setiap usaha yang kita geluti, itu selalu memiliki kata kunci. Bisnis kuliner umumnya rasa, fashion kata kuncinya model baru, barang komoditas ada diharga murah, outsourcing ada di harga murah. dll

Meleng atau lalai dengan kata kunci, biasanya usahanya bergoyang. Meleng bisa dikatakan tidak fokus. Banyak sekali kawan, karena meleng kejebur selokan. Meleng bisa jadi tdk mengurus atau terpesona bisnis baru. Terus terang, godaan orang usaha itu terpesona dgn godaan bisnis baru. Biasanya yg lama ndak diurus, yang barupun berdarah darah.

Menjaga fokus pada kata kunci usaha ibarat orang yang takwa. Menjalani perintah dan menjauhi larangan. Ditambah lagi istiqomah. Seringkali kita sibuk menjalankan perintah, tapi lupa dgn larangannya. Semisal, konsumtif, hutang berlebihan atau menipu kolega.

Mentorku pernah bilang, bisnis itu life skills atau keterampilan hidup. Jadi harus selalu diasah dan disesuaikan dgn perkembangan kehidupan. Mungkin cara2 yg dulu itu hebat, tapi kalau kita gunakan sekarang jadi jadul alias ndak cocok lagi. Jadi memang dituntun terus on dgn dinamika kehidupan.

@amirfauzi

Kejayaan Bisnis Masa Lalu Tak Menjamin Kejayaan Masa Depan

Dulu banyak buku mengulas the living company, atau perusahaan yg mampu bertahan diatas 100 tahun. Suwi banget...

Rasanya kalau disurvey sekarang boleh dikatakan sangat, sangatlah sedikit, dan itupun biasanya dalam skala bisnis yg super fokus, seperti zidjian misalnya. Lha kenapa, siklus bisnis dan siklus produk sdh sedemikian pendeknya. Ya mungkin dampak teknologi informasi dan perubahan model bisnis yg berubah secara eksponensial.

Catatan kecil saya, dulu ada dec, ditelan compaq, kemudian compaq ditelan hp. Atau produk misalnya bbm, flicker, nokia, ah...banyak lagi. Yang menunjukkan.kejayaan masa lalu tak mampu berbuat banyak utk membuat kejayaan masa kini. Malah kebanyakan, kebesaran dan kejayaan masa lalu malah menjadi beban usaha dimasa mutakhir ini. Atau bisa dikatakan memulai usaha dgn bikin.usaha baru lebih fresh daripada menggunakan sumber daya warisan.

Seringkali saya bertemu dgn usahawan yg berjaya pada masa lalu, kini pabrik2 dan aset2nya banyak yg tdk terurus. Bingung mau diapakan. Jika kini tempat kerjamu masih bertahan dan sehat, bersyukurlah. Karena mempertahankan usaha kini tak semudah mendirikannya. Semoga ini bukan bagian nggrenengi pemerintah.

@amirfauzi

Dampak Kenaikan Dollar dan Apa yang Harus Kita Lakukan

Kalau anda bertugas membuat analisa.kelayakan usaha atau investasi, jangan lupa disesuaikan kurs 1$ = 14.300, jangan sampai masih pake yg 12.000, atau 10.000 atau malah yg sangat jadul 9.000.

Berikutnya, apa sdh disesuaikan suku bunga dgn suku bunga sekarang.

Berikutnya jika mengkonsumsi listrik, sdh diupdate belum TDL nya. Kalau tenaga kerja, update dgn umr yang ada. Plus asumsi2 yg lain.

Jika kalkulator kelayakannya tidak diupdate, bandar bisa bakti sosial nanti. Artinya disini, perubahan2 yang terjadi harus selalu menjadi bagian dari update kalkulasi struktur cost kita.

Kuncinya, jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.

@amirfauzi

Dampak Perubahan Lingkungan Bisnis

Sebagai orang yg late adapter alias gaptek, hari ini mencoba ngorder gojek via mobapps. Seperti biasa, sebagai pecinta angkutan umum, mulai dari bajaj, ojek, metromini, taxi, busway, krl dan bemo, yg terakhir ini terus terang blm saya coba, karena belum nemu saja.

Cuman dalam hitungan dibawah 4 menit mas gojek sdh ada di depanku. Oh cepatnya, kalau nunggu taksi lewat hmm tak tahulah kapan datangnya. Dianter wus...menembus macet jakarta, lumayan kena sinar matahari dan udara luar.

Sepanjang jalan mikir, kalau ribuan mas gojek ini berputar jakarta, apa yg terjadi, setidaknya penumpang taksi menurun, metromini, bajaj, termasuk busway.

Bener2 bisnis yg mampu membalik keadaan, makanya organda teriak2, tapi ya tdk fair kalau organda menghalangi sistem baru yg lebih ramah, cepat dan murah beroperasi. Moga ndak ada mafianya.

Dari ngobrol sama mas gojek, kini.beroperasi gojek, grabbike dan ohhh...bluejack. Siapa itu...konon blue bird pun mau turun dibisnis ojek. Karena sebagai taksi terbesar sesungguhnya merekalah yg kena dampak, bisa dikatakan kalau waktu yg jadi ukuran, speed ojek jauh lebih kenceng di banding taksi, apalagi di ibu kota. Dan duh...taripnya itu lho yg begitu bersahabat dgn kantong kita. 

@amirfauzi

Wednesday, August 20, 2014

Cara Memulai Usaha Kaos Distro














Banyak kawan-kawan yang ingin memulai usaha kaos distro kebingungan, bagaimana proses produksinya. Dulu mungkin sulit untuk memproduksi kaos, namun dengan berkembangnya informasi, kini mendirikan usaha distro tak lagi sesulit dulu. Berikut ini pengalaman kami memproduksi kaos distro.
Dalam produksi kaos distro, bisa dilakukan dengan dua cara.

1.       FOB (Free On Board)
FOB adalah proses produksi dimana pemesan tidak terlibat sama sekali dalam proses produksi. Atau menurut istilah umum, terima jadi. Prakteknya, pemesan minta dibikinkan oleh konveksi kaos dengan desain yang telah ditentukan. Kemudian pemesan memberi DP atau ongkos produksi. Konveksi membuat kaos dan saat jadi diserahkan kepada pemesan sekalian pelunasan pembayaran.

2.       CMT (Cut Make Trim)
CMT seringkali disebut juga maklon. Dalam konsep maklon, pemesan ikut terlibat dalam proses produksi. Misal, dalam proses produksi terdiri dari desain, cutting, sablon, jahit dan finishing. Pemesan mengambil bagian dari salah satu proses produksi dan sisanya dimaklonkan atau dikerjakan oleh pengrajin lain. Contoh, cutting dan jahit dikerjakan sendiri, sedang sablon dimaklonkan ke orang lain.

Mengenai proses produksi kaos distro, setidaknya  melalui tahapan2 seagai berikut :

1.       Desain
Desain terdiri dari desain gambar yang akan disamblon dan desain pattern atau pola kaos yang akan dibuat. Desain memegang peranan besar bagi suksesnya produk yang akan dilempar kepasar. Pada dasarnya, orang membeli kaos karena melihat desainnya sebagai factor penentu.

2.       Cutting
Proses berikutnya adalah cutting. Pada proses ini, bahan kain combed atau carded yang telah dibeli digelar dan kemudian di potong sesuai dengan pola yang telah dibikin sesuai ukuran S/M/L/XL. Pola terdiri dari badan depan, belakang dan lengan serta ribs (krah leher)

3.       Sablon
Proses berikutnya adalah sablon. Gambar yang telah didesain dilakukan proses setting kemudian di afdruk dalam screen. Selanjutnya disablon di potongan kain hasil cutting. Proses sablon ini diakhiri setelah dilakukan proses heat press untuk tinta waterbase atau curing untuk tinta oil base. Jika Anda ingin belajar lebih lanjut tentang sablon, bisa ikut kursus di www.sekolahsablon.com


4.       Jahit
Proses selanjutnya adalah penjahitan dengan melakukan proses jahit badan, lengan dan ribs. Sampai proses ini kaos masih perlu dilakukan finishing. Jika Anda berminat untuk mengenal industry konveksi lebih lanjut atau memulai usaha jahit distro dapat mengambil kursus di www.sekolahjahit.com


5.       Finishing
Dalam proses finishing, kaos yang sudah dijahit berikutnya dilakukan quality control, pembersihan benang dan sekaligus di steam (strika uap).

Demikian sekilas proses produksi, setelah itu barang siap diedarkan atau dijual di toko online, distro atau diecer.

Salam,


Amir Fauzi
Founder Sekolah Distro
www.distroacademy.com


Tempat Bikin Kaos Murah
www.gesut.com


Sunday, August 17, 2014

7 Cara Merintis Usaha Jilbab Instan

Kami telah merintis usaha jilbab ini kurang lebih selama 6 tahun, dan alhamdulillah sampai hari ini terus bertahan dan bertumbuh. Bersama ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana merinstis usaha jilbab agar tetap berkembang. Dan hebatnya, usaha jilbab ini kini semakin marak dengan banyaknya orang yang berhijab.

1. Mulai Usaha Jilbab dari Kecil Dulu
Memulai bisnis itu perlu kesabaran, seringkali terlalu bernafsu untuk cepat besar malah seringkali terjatuh. Saya memulai usaha fashion dengan modal 450.000 untuk kulakan ke Pasar Baru Bandung. Seiring dengan bertumbuhnya usaha, alhamdulillah kini dapat mempekerjakan beberapa orang dalam bisnis ini.

2. Pandai Memilih Model Jilbab yang Laku
Usaha jilbab itu termasuk usaha fashion yang mana ciri-cirinya adalah tergantung pada trend atau mode. Keahlian memilih mode menjadi penting agar produk kita menjadi fast moving alias cepat laku. Jika kita gagal memahami keinginan pelanggan, bisa jadi akan menjadi dead stock alias tidak berputar. Rajin2 lah baca majalah, koran, jalan2 atau nonton sinetron :-)

3. Mulai Saja Tidak Perlu Nunggu Sempurna
Untuk memulai usaha jilbab, ndak perlu nunggu sempurna seperti harus punya karyawan, kantor dan sebagainya. Fokuslah pada transaksi. Jual kepada lingkungan terdekat Anda, apa yang dibutuhkan pelanggan, penuhi. Sesimpel itu. Nanti jika tumbuh kembangkan perlahan dan lengkapi terus.

4. Gunakan Media Online
Saat ini, untuk jualan tidak perlu harus punya toko terlebih dahulu. Punya akun Facebook, Twitter dan Blok serta situs2 jualan gratis diinternet sudah cukup sebagai media jualan. Dengan modal HP, Android atau BBM sudah cukup sebagai awal memulai usaha. Layani dengan sebaik-baiknya, insya Allah akan memudahkan usaha berkembang.

5. Cari Tempat Kulakan yang Bersaing
Dalam dunia online seperti sekarang ini, sangat penting menemukan tempat produksi atau grosir yang memberikan harga bersaing. Jilbab yang sama kadang dijual dengan beda harga antara bumi dan langit. Jika Anda berminat, Anda bisa bandingin harga di situs ini www.jilbabfatta.com untuk jilbab instan atau www.jilbabkaira.com untuk jilbab segi empat. Cari tempat kulakan terbaik agar memperoleh margin yang bagus.

6. Perbanyak Model Jilbab
Biar anda terlihat profesional, maka banyaknya pilihan menjadi salah satu ukuran. Oleh karena itu, lengkapi selengkap-lengkapnya stock model jilbab Anda. Jaman sekarang, orang ndak mau jilbabnya sama, selalu pengin dengan jilbab yang berbeda. Banyak model dengan stock terbatas setiap modelnya bisa menjadi pilihan yang sangat baik.

7. Fokus Mengembangkan Usaha
Seringkali pemula tidak fokus mengembangkan usaha, saat usahanya tersendat maka beralih ke usaha lainnya, padahal saat ada masalah yang muncul justru disitulah peluang naik kelas menjadi lebih besar. Dilapangan banyak sekali berguguran saat menghadapi kesulitan, padahal disitu banyak pelajaran. Terus lakukan inovasi baik produk, layanan dan pengelolaan keuangan. Insya Allah usaha akan berkembang.


Amir Fauzi
Owner
www.jilbabfatta.com
Pusat Jilbab Instan Bandung

www.jilbabkaira.com
Pusat Grosir Jilbab Segi Empat

Thursday, June 26, 2014

Mendampingi Ayah Saat Dipanggil Allah SWT.















my best father...

Sore itu saya sedang memimpin rapat perusahaan dimana saya bekerja di Jakarta, hari itu Rabu, 3 April 2014, tercatat jam 15.30 WIB. Sebuah rapat yang membahas tender besar dari sebuah bank BUMN yang nilainya milyaran. Dengan begitu semangat saya memimpin rapat sampai suatu ketika HP saya bordering. Saya ijin keluar ruangan dan saya terima call.

Ndak seperti biasanya adikku, Anna, call dijam-jam begini kecuali ada sesuatu yang penting. Dan benar, serasa badan saya terhuyung, kepala pening dan ndak tahu apa yang mesti saya lakukan.

Adikku mengabarkan bahwa Ayah kena serangan jantung dan masuk ICU. Saat itu juga saya masuk ruang rapat dan cabut, dalam benakku hanya berpikir bagaimana secepatnya dapat sampai ke Blitar. Aku berjalan cepat menuju Jalan Sudirman Jakarta, stop taksi langsung naik.

Taksi merangkak jalan bebera menit langsung tersendat, kupikir kalau begini terus, bisa ndak keburu dapat pesawat di Cengkareng, langsung kuputuskan turun dari taksi, kemudian berlari naik Bus Way arah Harmoni. Lumayan bisa memecah kemacetan yang menggila. Sampai Harmony aku bingung, gimana caranya ke Bandara, yang pasti sudah ndak ada Bus Way lagi.

Aku teringat, ada bus Bandara yang mangkal di Stasiun Gambir, maka kuputuskan naik busway ke Gambir, sampai disamperin sopir taksi gelap, kupikir kalau pake taksi gelap tambah cepat, dan benar setelah deal harga langsung naik taksi gelap yang sudah tua, namun sopirnya tarikannya mantap.

Dalam sekejap menembus padatnya arah Jakarta utara, ternyata sopirnya memang jago dan tahu jalan. Dengan tancap gas sambal saya berzikir sepanjang jalan hingga tak berapa lama sudah sampai di Bandara Cengkareng, Alhamdulillah, kukasih tambahan uang buat sopir karena jasa ngebutnya.

Sesampai di Jakarta langsung berburu tiket Jakarta - Surabaya, dan ternyata sudah pada habis, ada juga harganya selangit dan harus menunggu malam tiba. Kupikir jalan tercepat adalah cari calo, setelah kesana kemari akhir deal tiket 900.000 naik Citylink yang berangkat jam 18.00. Setelah deal langsung saya masuk bandara, cek tiket dan ternyata pesawat sudah siap berangkat.

Alhamdulillah, walau terengah-engah akhirnya aku dapat naik pesawat saat itu juga. Dalam keadaan berkeringan dan masih berseragam dan bertas kantor kucari tempat duduk sesuai tiket. Dan tak berapa lama pesawat take off. Selama perjalanan, mataku nanar, air mataku tumpah tak karuan, tak kuhiraukan penumpang sampingku memperhatikannku.

Dalam benakku, hanya ada wajah ayahku yang teduh memandangku. Sedih, sedih dan sangat sedih. Aku tak kuasa melukiskan dengan kata. Benar-benar terpukul, rasanya tak pernah aku mendapat ujian seberat hari ini.

Pesawat berjalan mulus, sampai landing di Juanda. Waktu sekitar jam 19.30. Keluar Bandara langsung kucari ojek, karena itulah jalan tercepat menuju terminal Bungurasih, ku buka HP ku, ada SMS dari adikku jika ayah sudah siuman dan menanyakanku sampai dimana. Kubalas bahwa aku sudah mendarat di Juanda. Sambil jalan air mataku tumpah lagi, dan lagi…

Setelah dapat SMS, kumatikan HP ku biar hemat, maklum ndak bawa powerbank biar nanti jika ada komunikasi bisa mudah. Setelah itu aku naik ojek ke Bungurasih dan naik bus patas ke Malang.
Sepanjang jalan, mataku terus gerimis, kembali terkenang masa-masa indah bersama Ayah. Dan aku belum bisa banyak berbuat baik kepada Abah, apalagi dengan posisiku yang senantiasa terpisah dengan Abah sejak saya masih SMA.

Oh…sedih sekali…
Sampai di Malang sekita jam 22.00 malam, Alhamdulillah lancar, karena lapar melilit kuisi perut di warung terminal. Hanya sekedar terisi, nasi masih terisisa saat kuselesaikan, pikiranku sudah melayang kemana-mana. Jalan saja terasa mengambang. Setelah itu aku cari carteran ke Blitar, terlalu lama kalau nunggu bus.
Alhamdulillah dapat, langsung kuminta sopir tancap gas walau aku lihat mobilnya carry tua. Ku bilang, saya perlu mendesak karena orang tuaku sakit. Dalam perjalanan kubuka HP ku, ada SMS adikku masuk, yang menjelaskah Ayah tidak sadar, suruh segera sampai….

Aduh….
Tak kuasa airmataku terus meleleh dan meleleh sepanjang perjalanan. Beribu doa kusampaikan agar Allah menolong Abahku…

Dengan kecepatan tinggi, akhirnya sampai juga di RS Ngudi Waluyo Wlingi, dimana ayahku dirawat. Alhamdulillah, ayahku sadar kembali, melihatku tanpa bisa berkata-kata..
Aku menangis sejadi-jadinya…

Belum pernah aku menangis seperti ini, air mataku terus tumpah tiada henti…Ibu menghampiriku dengan mata sembab. Dekapan ibuku pun tak  bisa kurasakan karena rasa sedihku…

Sempat terucap dari lisan Ayahku, Mir Kamu Datang, Kamu Cuti…Kalimat itu tambah menyengatku, betapa Ayahku tak mau mengganggu kesibukanku walau disaat-saat sulit sekalipun.
Oh Ayahkuu…

Aku dekap beliau, aku cium tangan dan kening beliau, terus aku talkin berulang-ulang. Aku duduk disampingya sambil membelai rambut beliau. Oh ayahku…aku sangat mencintaimu…

Dalam keadaan banyak selang dan kabel, aku terus menemani beliau sampai subuh menjelang. Setelah azan subuh, aku ambil wudhu dan sholat di Musholla.

Setelah sholat, terasa kantuk sekali, tak bisa kutahan, akhirnya aku bersandar dikursi panjang, sampai ketika Adikku memanggilku, menyampaikan bahwa kondisi ayah terus memburuk.
Langsung saja aku berjingkat menuju bangsal dimana Ayahku dirawat, dan dengan gerakan yang agak kuat ayahku jatuh koma…

Allahu Akbar….
Dalam komanya, tetap kubacakan talkin di telinga beliau. Air mataku terus mengucur deras, saya merasa tidak lama lagi dapat bersama Ayah…

Kondisi koma terus berlangsung hingga Ayah ditarik kembali ke ruangan ICU. Dalam proses pemindahan terus saya ikut mendampingi.

Matahari sudah semburat dan terus memanas, keluarga sudah semakin banyak yang dating, semakin banyak yang tahu bahwa ayahku sedang kritis…

Aku tidak ingin berpisah dengan ayahku, kudampingi terus sampai pukul 10.30 malaikat Izrail mengambil ruhnya.

Dalam komanya, masih terus ada desah nafas halus, kemudian terus menghalus sampai pada akhirnya ada tarikan nafas panjang dan ternyata itu adalah tarikan nafas beliau di dunia yang fana ini.

Aku duduk disamping beliau saat nafas terakhirnya dan inilah moment yang tidak pernah terbayangkan dalam hidupku. Mendampingi beliau disaat-saat akhir menjalani kehidupan. Disamping beliau lengkap seluruh keluarga, Ibu, Mas Huda, Anna dan Hima.

Semoga khusnul khatimah Ayahku, engkau ayah terbaik yang pernah aku punya, selamanya, dan selamanya. Jasamu tak kan bisa kuhitung, kasih sayangmu yang luas dan ilmu agama yang engkau wariskan. Engkau benar-benar tak tergantikan. Sungguh, air mataku meleleh menulis tulisan ini...benar benar meleleh karena warisan kebaikan yang takkan pernah aku lupakan. Ya Allah...ampunillah aku yang tak mampu memberikan yang terbaik bagi ayahku....

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiuun…

Hari itu, Kamis, 4 April 2014, jam 10.30 ayahku, H. Imam Syafii bin Shihabuddin menghadap Allah SWT di RS. Ngudi Waluyo Wlingi, dimana adikku yang juga dokter bekerja di rumah sakit tersebut.
Allahumma firlahu, warhamhu wa’fu anhu.
Allahumma latakhrimna ajrahu, wala taftinna ba’dahu.

Jalan Fatmawati

Jakarta, 26 Juni 2014 

Monday, February 17, 2014

Yang Perlu Diperhatikan Saat Maklon Kaos

Saya mau share terkait pengalaman pernah saya jalani dalam usaha kaos, semoga bermanfaat bagi pengusaha kaos lainnya.

Awalnya saya memulai usaha kaos tanpa tahu ilmunya sehingga beberapa kali kena tipu. Namun dengan seiring tambahnya ilmu dan belajar dari beberapa kali kena penipuan, maka saya terus mengembangkan usaha.

Dulu saya tidak mengenal bahan kaos, teknik sablon, proses produksi, bikin pola dan sebagainya, seiring dengan bersentuhan dengan hal-hal tersebut saya mulai mengenalnya. Awalnya saya memaklonkan atau beli putus dari beberapa rekan.

Baik, saya mau share hal-hal yang perlu diperhatikan saat memulai usaha konveksi atau kaos.

1.       Jenis bahan
Kita harus mengenal mulai bahan dari combed, carded, TC, PE ataupun hyget. Pernah suatu saat saya ditawari bahan dengan harga murah, katanya semi combed, dan ternyata bahannya keras. Usut punya usut ternyata bahannya dari carded.

2.       Jenis Sablon
Kita harus tahu jenis bahan atau tinta sablon, baik itu water base, oil base atau special effect. Pernah saya order, ternyata sablonannya rontok gara-gara tinta waterbasenya/rubber tidak di heatpress cuman diangin-anginkan.

3.       Proses Produksi
Untuk proses produksi, kadang-kadang tempat produksi akan mendahulukan siapa yang berani bayar mahal. Repotnya kita sudah langganan dan sudah jelas jatuh temponya. Tahu-tahu saat diambil produk masih diolah sebagian, terpaksa deh nongkrongin gara-gara kesusuan order yang bayar lebih mahal.

4.       Ukuran/Pola
Ukuran dan pola juga harus dipastikan, karena setiap rumah produksi memiliki ukuran dan pola masing-masing yang kadang-kadang berbeda jauh dengan standar umumnya. Ada rumah produksi yang kaosnya junkiest ada juga yang oblong besar. So, pastikan benar jenis ukurannya.

5.       Cacat Produksi
Ini juga sering terjadi, mulai dari cacat jahit, cacat bahan dan cacat sablon. Rumah produksi ndak mau rugi, kadang produk cacat diselipin ditengah, kalau ndak jeli kita bisa dikomplain pelanggan.

6.       Deadline
Kebiasaan banyak penerima maklon adalah molor jadwal kerjaannya. Biasanya saat masih jauh tenggang waktunya, mereka santai, pas saat mau deadline baru kelabakan. Untuk menghindari ini, usahakan ada waktu tambahan yang cukup agar tidak merugikan klien.

Demikianlah pengalaman saya saat memulai usaha kaos dengan system maklon. Sekarang Alhamdulillah sudah produksi sendiri baik untuk kaos sablon, reglan, polos, hoodie dan lainnya.

*Noted
Hati-hati bagi pemula yang ingin memulai usaha kaos, kehati-hatian akan menghindarkan kerugian


Amir Fauzi
Founder
www.distroacademy.com | Sekolahnya Bisnis Kaos Distro
www.gesut.com | Tempatnya Bikin Kaos Keren

Monday, February 03, 2014

Pergeseran B2B Menuju B2C

Distribusi barang merupakan tantangan tersendiri, apalagi dengan kondisi Indonesia yang banyak pulau. Pada awalnya, distribusi konvensional berjenjang, mulai dari pembuat atau produsen. Dari produsen diteruskan ke Distributor besar. Berikutnya kea gen-agen yang lebih kecil yang tersebar di berbagai wilayah.

Gambaran tersebut merupakan gambaran distribusi konvensional. Namun seiring dengan perkembangan internet, smartphone dan social media ditambah dengan naiknya pengguna internet secara signifikan maka pola konvensional tersebut secara berlahan terus mengalami gradasi.

Distribusi konvensional secara perlahan tergeser oleh perkembangan teknologi. Lazimnya bisnis lama mengandalkan apa yang disebut B2B atau Business to Business. Dari bisnisman yang satu ke bisnisman yang lain.

Namun kini berkembang sangat cepat ke arah B2C atau Business to Customer. Saat ini, produsen tidak perlu lagi susah payah harus mengikuti pola konvensional. Produsen langsung dapat mendistribusikan produk secara online langsung kepada customer.

Contoh-contoh dalam dunia B2C sangat banyak, semisal Amazon, Ebay, Alibaba dan sejenisnya.
Berminat anda bermain di B2C..

Saya akan memulainya setelah lama berkutat B2B.


Amir Fauzi
Founder
www.distroacademy.com | Sekolahnya Pengusaha Kaos Distro
www.gesut.com | Tempatnya Bikin Kaos Keren

Jika Tidak Punya Keunggulan, Jangan Bersaing

Makin hari bisnis makin kompetitif. Terbukanya akses internet dibeberapa daerah berpeluang membuka peluang dengan merubah aturan permainan baru.

Perkembangan tersebut jika tidak disikapi dengan bijak akan membawa  bisnis Anda pada penurunan yang berkepanjangan.

Bagaimana mensikapi perubahan yang terus terjadi. Salah satu kunci adalah menemukan dan mengembangkan kompetensi inti.

Apa itu kompetensi inti ? Kompetensi inti bisa diartikan sebagai keunggulan yang kita miliki dimana tidak dimiliki oleh competitor. Apa saja kelebihan yang bisa jadi kompetensi, ada macam-macam, bisa dari produk dengan harga bersaing, keragaman produk, dan kualitas produk.

Jika Anda telah menemukan kompetensi inti, maka habis-habiskanlah untuk focus dan mengembangkan kompetensi inti tersebut secara maksimal dan berkelanjutan.

Pada akhirnya itulah nanti yang akan menjadi daya saing kita untuk bertahan ditengah gempuran competitor.
Selamat menemukan kompetensi Anda.



Amir Fauzi
Founder
www.distroacademy.com | Sekolahnya Pengusaha Kaos Distro
www.gesut.com | Tempatnya Bikin Kaos Keren

Wednesday, January 29, 2014

Perkembangan Dunia Bisnis Online di Indonesia

Dalam bisnis yang pasti terjadi adalah perubahan. Demikian juga dalam bisnis berbasis internet atau bisnis online, terus mengalami perubahan.

Dulu bisnis internet didorong dengan bagaimana kita memaksimalkan search engine semacam Google, Yahoo, Bing dan sejenisnya. Namun, dengan perubahan yang sangat massif dalam penggunaan social media layaknya Facebook, Twitter, Blog dan sejenisnya, maka pola tarifik web yang awalnya didominasi oleh search engine bergeser kea rah social media.

Perubahan-perubahan lain yang terjadi, adalah masuknya UKM dalam dunia online, hal ini memangkas fungsi-fungsi pasar-pasar grosir tradisional. Katakanlah dulu orang berbelanja pakaian di Tanah Abang, namun dengan adanya internet, maka transaksi di Tanah Abang akan terus bergeser digantikan dengan berbasis online yang diprakarsai para pemasok Tanah Abang.

Faktor lainnya adalah, semakin mahalnya ongkos transportasi juga berpengaruh ditambah dengan kemacetan kota, sehingga orang malas untuk berbelanja langsung ke pusat grosir. Kondisi ini mendorong semakin maraknya pasar on line yang secara perlahan menggantikan pasar tradisional.

Berkembangnya telepon seluler kea rah smart phone semacam Blackberry dan Androin juga ditengarai membuat pola komunikasi berubah drastis. Dulu orang mengakses internet dari Warnet, kini bias melalui Speedy dan smartphone.

Faktor-faktor diatas sudah sangat mencukupi untuk menyimpulkan bahwa, akan terjadi proses migrasi pasar secara besar-besaran dari pasar konvensional menuju pasar online.
Fenomena ini ditangkap dengan sangat baik oleh investor asing yang membenamkan modal untuk perusahaan startup IT. Pertanyaannya buat kita adalah, siapkah kita menghadapi fenomena ini, sehingga mampu menjadi tuan dinegerinya sendiri.

Ini tugas kita bersama, kalau kita abai terhadap masalah ini, maka yang terjadi adalah penjajahan online diatas negeri ini.


Amir Fauzi
Founder
www.distroacademy.com | Sekolahnya Pengusaha Kaos Distro
www.gesut.com | Tempatnya Bikin Kaos Keren