Wednesday, March 30, 2016

Tantangan Bisnis Ayam

Ngobrol dgn praktisi bisnis ayam. Peternak yg dimungkinkan bisa survive diskala 10.000 keatas, utk skala rumahan babak belur dihajar dr segala sisi.

Disisi lain, terjadi konglomerasi dan masuknya pemilik modal asing (pma) besar-besaran.
Konglo yg dimaksud disini, industri pakan, masuk ke industri bibit sampai peternakan. Dan yg lebih dahsyat lagi, masuk ke distribusi.

Selain itu, PMA masuk gencar mengandalkan mekanisasi dan modal besar. Mekanisasi disini, mengurangi banyak org dan menggantikannya dgn mesin. Mesin berfungsi pemberi pakan otomatis, pengambil telur otomatis dll.

Sekali lagi, negara tetap perlu mengambil peran perlindungan ekonomi, tdk bisa lepas tangan ke mekanisme pasar. Negeri kapitalispun masih aktif melindungi kepentingan ekonomi negerinya.
Dgn penduduk 250 jt, dan gemar makan ayam, tentu akan sangat menggiurkan invesor asing utk masuk. Sangat sayang jika nantinya, hanya asing yg dapat mengailnya. Mari mulai berpikir utk menjadi toean di negeri sendiri.

Bekal dari Ibu

Kasih ibu sepanjang hayat. Walaupun aku sdh jadi manusia dewasa, tetap terasa menjadi anak2 dihadapan ibuku. Kasih sayangnya begitu luas tak bertepi.

Jika aku kembali setelah menjenguk ibu, begitu banyak bekel yg beliau minta aku bawa, seakan-akan bergumam, jangan sampai anakku kelaparan ditengah jalan.

Dan selalu saja, dengan setia kubawa bekelnya selagi bisa. Ini sdh menjadi ritual komitmenku. Aku berharap, keridhaan beliau.

Jika aku bawa mobil, beras, pisang dan sejenisnya diminta aku angkut. Jika naik pesawat, bekelnya juga aku angkut semampuku. Tak pernah ku tolak selagi aku mampu membawanya...

Saat sampai tujuan, aku buka bekel beliau, selalu saja aku berurai air mata. Mungkin bekelnya bisa dipandang sederhana, tapi karena kasih sayangnya itu menjadi sangat menyentuh sehingga mata ini tak tahan menumpahkan air mata.

Oh ibuku,
Semoga Allah selalu merahmatimu...

Kenapa Mesti Datang Kesana













Kenapa mesti hadir kesana, menggenapi kenapa berita2 media ini seringkali menyakiti hati ummat.
Al Aqsa adalah kota suci ummat setelah makkah & madinah yg tertawan secara keji dengan menyingkirkan warga palestine.
Minoritas yahudi, secara perlahan menggusur dan mengusir serta menzalimi warga pribumi palestine.
Seperti kulit putih mengusir aborigin di ausie, seperti europe mengusir org indian dari amerika, seperti perompak barat mengusir orang maori di selandia baru, seperti perantau china daratan menghalau pribumi melayu di singapore (tumasik)
Mayoritas ditindas minoritas. Mayoritas terpenjara oleh minoritas. Emangnya enak, terus kenapa sampeyan datang juga ke perompak itu. Atau kok ndak sekalian tinggal di gaza.

Hakekat Kemerdekaan

Kalau dibilang Belanda punya jasa, tentu saja dia punya. Bangun jembatan, jalan, gedung2, hutan raya dll.

Kalau dibilang Inggris punya jasa, tentu, Rafles bikin jalan dan pembenahan asministrasi pemerintahan dll.

Kalau dibilang Jepang punya jasa, tentu, dia bikin pangkalan militer, melatih ketentaraan pribumi dan membuka pelabuhan dll.

Lantas kenapa Sukarno, Hatta dan para pendiri mengusirnya....

Apakah para pendiri bangsa itu rasis. Oh tidak, karena mereka ingin merdeka. Kemerdekaan hakiki lebih mahal daripada bangunan2 fisik itu. Kita ingin bermartabat dan tidak ingin jadi kuli di tanah tumpah darah sendiri. Kita ingin menjadi tuan dinegeri sendiri. Kita ingin membangun negeri tanpa direcokin orang2 yg ingin menguras dan memanfaatkan bangsa ini utk kepentingan segelintir orang.

Semoga warga jakarta paham ini.

Muslim Sontoloyo

Adanya orang Islam yang lebih mengutamakan keselamatan duniawi daripada agamanya, merasa berat meninggalkan kesibukan dunianya daripada memperjuangkan agama Allah, inilah mentalitas Muslim Sontoloyo.

Di zaman kita sekarang, bukan sedikit orang Islam bermental sontoloyo. Mereka ingin beragama dengan enjoi, tidak dibebani kewajiban yang mereka rasa bikin hidup susah. (Ar-rahmah)

----- cut ------

Malem2 kesentil dgn ini tulisan, hadeuh...

Sharing Economy & Informal Economyc Power

Lagi mengulik, apa itu economic sharing dan apa itu informal economic power....
Fenomena gojek, grabbike, tokopedia, airbnb dan sejenisnya...

Mungkinkah akan terjadi demokratisasi ekonomi yg lebih ramah drpd sistem kapitalis yg telah banyak dianut...

Akankah kekuatan digital mampu mendistribusikan kemakmuran yg lebih merata yg selama ini tdk bisa disediakan maksimal oleh bisnis off line...

Khutubus Shittah











Sharing ini mungkin konyol bagiku, kenapa, sebagai orang yg terlahir sebagai muslim, belum juga pernah menuntaskan membaca hadist2 nabi yg dikumpulkan.para ulama2 yg sdh teruji dari kitab aslinya walau itu terjemahan.

Suatu hari, beberapa tahun lalu, mulailah bergerilya mencari terjemahan hadist satu persatu. Dalam kodifikasi hadist, ada enam kitab yg sering disebut khutubus shittah : sahih bukhari, shahih muslim, sunan at tirmidzi, sunan abu dawud, sunan an nasai, sunan ibnu majah.

Jika mau menggenapkan lagi sampai 9 kitab, ditambahlah musnad imam ahmad, al muwatta imam malik & ad-dhailami.

Apa bedanya sunan sama musnad. Sunan susunan hadist berdasarkan tema yg diangkat, sedangkan musnad disusun berdasarkan perawi atau yg meriwayatkannya.

Membaca langsung dari kitab2 kodifikasi ulama walau terjemahan terasa maknyus, setidaknya terasa begitu orisinil berdialog dgn nabi. Menurutku, terasa berbeda dgn membaca buku2 tematik. Mungkin, bisa.jadi karena nilai orisinalitas dan bobot ruhiah penulisnya.

Mencicil lembar demi lembar mengiringi bertambahnya umur bisa jadi aktifitas apik untuk memperkaya ilmu, apalagi kini sdh ada terjemahan yg bisa kita download dalam genggaman kita.

Bayangin para muhaddist dahulu, untuk mendapatkan sebuah hadist harus menempuh perjalan ratusan kilo menembus padang pasir berteman terik mentari dan dinginnya gurun malam hari. Kini, bisa dinikmati kapan dan dimana saja. Mungkin, hanya rasa malas dan abai lah musuh kita yg seringkali mengajak kita tetap setia menjadi orang biasa2 saja.

Semoga sharing ini bermanfaat, setidaknya utk diri sendiri ditengah tarikan duniawi yg memburu tiada henti. Disaat argo hidup kita didunia terus tergerus tanpa kita sadari, bahkan malah kita rayakan. Setidaknya suatu hari bisa jadi pembela dan bukti, bahwa kita mencintai nabi.

Tugu, jogjakarta

Monday, October 12, 2015

Tumbangnya Produk Lokal











Alhamdulillah, dalam situasi yang serba sulit usaha kami masih bertahan. Namun bukan berarti ini mewakili kawan-kawan pengusaha garment lainnya yang saat ini bertahan habis-habisan melawan masukknya produk asing dengan kategori yang sama dan lemahnya daya beli.

Sebagai pelaku UKM, silaurahmi antar sesama pengusaha garmen rutin saya jalani. Mulai sekedar bertemu, sharing dan transaksi bisnis. Dalam setiap sharing, kita selalu berbagi kabar bagaimana kondisi bisnis saat ini.

Terus terang mengejutkan, rata-rata kolega saya banyak yang jatuh dimulai dengan menurunnya omset yang sangat tajam. Penurunan omset ini seperti efek domino, yang kemudian diikuti dengan pengurangan produksi, pengurangan pegawai sampai penjualan aset dan penutupan usaha.

Kondisi ini mulai menampakkan muramnya saat masuk tahun 2015, saat lebaranpun tak beranjak naik bahkan sampai dolar membumbung tinggi dikisaran 14.700. Sungguh peristiwa yang bertubi-tubi.

Sebagai pelaku UKM yang modalnya umumnya bercampur dengan dapur keluarga, sungguh goncangan cashflow tersebut sangat berpengaruh terhadap masa depan usaha.

Permasalahannya sebenarnya ada dimana, saya akan coba mengurai sebagai bentuk sharing dan pembelajaran.

1. Liberalisasi Produk Import
Sejak rezim pemerintahan yang baru, kami amati barang masuk ke negeri ini seperti air bah. Bahkan produknya sama persis semisal kerudung instan, koko dan baju2 lainnya yang mana merupakan produk yang sudah jadi.

Harusnya, pemerintah jika peduli dengan UKM, harusnya membatasi pada import bahan baku saja, karena jika import produk jadi maka negeri ini harus membayar jam kerja asing sehingga berdampak menipisnya peluang usaha dan meledaknya pengangguran.

Maraknya produk impor, membuat produsen tergoda. Daripada membuat produk yang kalah bersaing dari sisi harga dan mungkin mutu, lebih baik beralih sebagai pedagang yang lebih rendah resikonya.

Jika ini terjadi, kerugian terbesar bagi aset bangsa, karena orang yang punya skills bermigrasi menjadi pedagang sehingga menyebabkan menurunnya kompetensi dan ketahahan produksi negara. Masalahnya apakah negeri ini akan terus jadi importir dengan hanya menukarnya dengan hasil bumi yang semakin terbatas.

2. Nilai Dolar yang Liar
Naiknya nilai dolar dibatas kewajaran menimbulkan harga bahan baku tak terkendali. Sebagai contoh, kebutuhan kapas 96% masih impor dengan kurs dolar dgn pusat importir di Singapura.

Wajar saja jika dolar melambung, maka harga bahan baku tekstil melonjak tinggi sehingga menyebabkan ongkos produksi meninggi.

3. Daya Beli Menurun
Selain itu, dengan naiknya dolar, banyak perusahaan menutup usahanya dan sebagian bertahan dengan menerapkan pengetatan pengeluaran.

Dampaknya, daya beli masyarakat menurun drastis, sehingga mereka hanya mengkonsumsi kebutuhan pokok saja, sedang kebutuhan primer dan tersier akan dikesampingkan terlebih dahulu. Kondisi ini menekan usaha yang berbasis pada produk sekunder atau tersier baik dalam usaha sandang, pangan dan papan.

4. Desentralisasi Produksi
Hal yang menarik belakangan ini adalah adanya desentralisasi produksi. Apa itu, yaitu kalau dahulu kota tertentu memiliki industri khas yang menjadi icon kota tersebut, kini konsep itu berubah drastis seiring tidak adanya tata kota yang baik.

Sebagai contoh, Bandung, Tangerang dan Bekasi sebagai salah satu sentra industri tekstil dan garmen, kini dengan naikknya UMR yang tidak terkendali dan banyaknya resiko bisnis baik dari demo maupun pungli, maka para pengusaha melakukan migrasi pabrik kedaerah-daerah diluar Jakarta dan kota besar lainnya.

Semisal, daerah Subang, Purwakarta, Salatiga, Garut dan lain sebagainya. Bahkan banyak grosir besar melakukan produksi di kota-kota luar jawa.

Dampaknya, merusak ekosistem. Semisal Jepara yang dulu dikenal dengan ukiran kayunya, penduduknya mulai masuk industri garmen dan meninggalkan profesinya sebagai pengrajin.

Tidak terkelolanya dengan baik sentra-sentra industri akan menimbulkan high cost dan resiko ketahanan produksi dalam jangka panjang...

5. Mentalitas Budak & Konsumtif
Terus terang sulit mengucapkan kata-kata ini, tapi itulah faktanya. Bangsa ini hanya berfikir short term alias instan. Yang penting dapat untuk saat ini, besuk entahlah. Sehingga dengan konsep berpikir seperti ini tidak pernah berpikir secara strategis mensikapi perubahan yang sangat drastis. Asal bisa makan selesai...

Meskipun bertahan dalam kondisi sekarang cukup sulit, namun jika semua berbondong-bondong jadi bangsa pembeli, maka yang terjadi adalah secara perlahan bangsa ini akan menjadi budak asing dengan menukar kekayaan alam yang makin hari makin menipis.

Pengangguran akan bertebaran, orang berbondong menjadi TKI dan yang jelas akan marak kejahatan. Miris melihatnya, tapi itulah faktanya.

Pesan yang bisa saya sampaikan, bertahan sekuat tenaga menghadapi badai ini, dengan atau tanpa pemerintah. Posisi ini memang sulit, tapi jika tidak kita akan menjadi kuli di negeri sendiri.


Amir Fauzi



Friday, September 11, 2015

Mengapa Kita Mesti Bisnis Online

Diaspora Bisnis Off Line

Mudahnya akses melalui internet, menjadi ancaman serius bagi usaha2 konvensional. Contoh simpel yang kasat mata, adanya gojek merenggut penumpang yang biasanya naik metromini, taksi dan ojek konvensional.

Hal ini juga sedang dan akan terus terjadi pada bisnis konvensional lainnya. Contoh riil adalah pusat grosir konvensional seperti tanah abang, cipulir, cipadu dan lainnya.

Kemudahan online membuat seorang produsen dapat memasarkan langsung produknya ke konsumen tanpa harus lewat pasar grosir. Jamak kita ketahui, seorang pemilik toko kini langsung order langsung ke produsen hanya.berbekal bbm dan whastapp. Sungguh bentuk bisnis baru yg belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Perubahan ini, kalau tidak disikapi secara bijak akan berpengaruh pada.penurunan omset.

Apa yg harus kita lakukan, mau tidak mau harus ikut perubahan angin besar jika ingin dapat bertahan.

Kemajuan teknologi harusnya menjadi pemacu mesin bisnis kita bukan malah sebagai bencana.

Mari kita berpikir lagi....

@amirfauzi

Batu Akik Ternyata Bisnis Musiman

Tren bisnis batu akik menurun, begitu reportase sebuah koran. Kalau sdh turun, segera mencari angin baru. Saat angin berubah arah, begitu sulit menerbangkan layang2, walau layang2 itu bagus kondisinya.

Menurutku bukannya yg cepat, hebat dan sebagainya yang mampu bertahan, tapi yang paling adaftif terhadap kebutuhan dan perubahan lingkungan bisnislah yang akan bertahan.

Tidak perlu yang muluk2, sudahkah kita selalu mentera perubahan2 yang terjadi dalam usaha yang kita geluti. Jika kita jeli, setiap hari selalu ada cara dan hal baru. Melewatkannya, berarti sebuah kemunduran dimasa masa yg akan datang.

@amirfauzi

Mensikapi Persaingan : Berfokuslah Pada Penciptaan Nilai

Harga bahan baku naik signifikan. Sulit bertumpu pada harga rendah atau yg memiliki nilai/value rendah. Jika tetap memaksakan diri, margin akan terus tergerus.

Hikmahnya, berpikir ulang, mencari value yg paling tinggi. Kalau di fashion itu ada di desain, kalau kuliner mungkin di rasa, kalau di bisnis outsourcing itu di skills yg tinggi. Dll.

Bertahan dgn produk2 komoditas, jelas.bukan pekerjaan yang mudah, karena harga yang menjadi patokan. Perang harga ujung2nya margin terus menipis dan nyaris kerja bakti.

Semoga terus mampu menemukan dan berfokus pada aktifitas bernilai tinggi. Dan itu butuh expertise atau keahlian. 

@amirfauzi

Pentingnya Fokus dalam Bisnis

Setiap usaha yang kita geluti, itu selalu memiliki kata kunci. Bisnis kuliner umumnya rasa, fashion kata kuncinya model baru, barang komoditas ada diharga murah, outsourcing ada di harga murah. dll

Meleng atau lalai dengan kata kunci, biasanya usahanya bergoyang. Meleng bisa dikatakan tidak fokus. Banyak sekali kawan, karena meleng kejebur selokan. Meleng bisa jadi tdk mengurus atau terpesona bisnis baru. Terus terang, godaan orang usaha itu terpesona dgn godaan bisnis baru. Biasanya yg lama ndak diurus, yang barupun berdarah darah.

Menjaga fokus pada kata kunci usaha ibarat orang yang takwa. Menjalani perintah dan menjauhi larangan. Ditambah lagi istiqomah. Seringkali kita sibuk menjalankan perintah, tapi lupa dgn larangannya. Semisal, konsumtif, hutang berlebihan atau menipu kolega.

Mentorku pernah bilang, bisnis itu life skills atau keterampilan hidup. Jadi harus selalu diasah dan disesuaikan dgn perkembangan kehidupan. Mungkin cara2 yg dulu itu hebat, tapi kalau kita gunakan sekarang jadi jadul alias ndak cocok lagi. Jadi memang dituntun terus on dgn dinamika kehidupan.

@amirfauzi

Kejayaan Bisnis Masa Lalu Tak Menjamin Kejayaan Masa Depan

Dulu banyak buku mengulas the living company, atau perusahaan yg mampu bertahan diatas 100 tahun. Suwi banget...

Rasanya kalau disurvey sekarang boleh dikatakan sangat, sangatlah sedikit, dan itupun biasanya dalam skala bisnis yg super fokus, seperti zidjian misalnya. Lha kenapa, siklus bisnis dan siklus produk sdh sedemikian pendeknya. Ya mungkin dampak teknologi informasi dan perubahan model bisnis yg berubah secara eksponensial.

Catatan kecil saya, dulu ada dec, ditelan compaq, kemudian compaq ditelan hp. Atau produk misalnya bbm, flicker, nokia, ah...banyak lagi. Yang menunjukkan.kejayaan masa lalu tak mampu berbuat banyak utk membuat kejayaan masa kini. Malah kebanyakan, kebesaran dan kejayaan masa lalu malah menjadi beban usaha dimasa mutakhir ini. Atau bisa dikatakan memulai usaha dgn bikin.usaha baru lebih fresh daripada menggunakan sumber daya warisan.

Seringkali saya bertemu dgn usahawan yg berjaya pada masa lalu, kini pabrik2 dan aset2nya banyak yg tdk terurus. Bingung mau diapakan. Jika kini tempat kerjamu masih bertahan dan sehat, bersyukurlah. Karena mempertahankan usaha kini tak semudah mendirikannya. Semoga ini bukan bagian nggrenengi pemerintah.

@amirfauzi

Dampak Kenaikan Dollar dan Apa yang Harus Kita Lakukan

Kalau anda bertugas membuat analisa.kelayakan usaha atau investasi, jangan lupa disesuaikan kurs 1$ = 14.300, jangan sampai masih pake yg 12.000, atau 10.000 atau malah yg sangat jadul 9.000.

Berikutnya, apa sdh disesuaikan suku bunga dgn suku bunga sekarang.

Berikutnya jika mengkonsumsi listrik, sdh diupdate belum TDL nya. Kalau tenaga kerja, update dgn umr yang ada. Plus asumsi2 yg lain.

Jika kalkulator kelayakannya tidak diupdate, bandar bisa bakti sosial nanti. Artinya disini, perubahan2 yang terjadi harus selalu menjadi bagian dari update kalkulasi struktur cost kita.

Kuncinya, jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.

@amirfauzi

Dampak Perubahan Lingkungan Bisnis

Sebagai orang yg late adapter alias gaptek, hari ini mencoba ngorder gojek via mobapps. Seperti biasa, sebagai pecinta angkutan umum, mulai dari bajaj, ojek, metromini, taxi, busway, krl dan bemo, yg terakhir ini terus terang blm saya coba, karena belum nemu saja.

Cuman dalam hitungan dibawah 4 menit mas gojek sdh ada di depanku. Oh cepatnya, kalau nunggu taksi lewat hmm tak tahulah kapan datangnya. Dianter wus...menembus macet jakarta, lumayan kena sinar matahari dan udara luar.

Sepanjang jalan mikir, kalau ribuan mas gojek ini berputar jakarta, apa yg terjadi, setidaknya penumpang taksi menurun, metromini, bajaj, termasuk busway.

Bener2 bisnis yg mampu membalik keadaan, makanya organda teriak2, tapi ya tdk fair kalau organda menghalangi sistem baru yg lebih ramah, cepat dan murah beroperasi. Moga ndak ada mafianya.

Dari ngobrol sama mas gojek, kini.beroperasi gojek, grabbike dan ohhh...bluejack. Siapa itu...konon blue bird pun mau turun dibisnis ojek. Karena sebagai taksi terbesar sesungguhnya merekalah yg kena dampak, bisa dikatakan kalau waktu yg jadi ukuran, speed ojek jauh lebih kenceng di banding taksi, apalagi di ibu kota. Dan duh...taripnya itu lho yg begitu bersahabat dgn kantong kita. 

@amirfauzi